Petualangan di THE PRIORY
Bagian 4
Ringkasan cerita yang lalu:
Sherlock
Holmes dan Watson tiba di sekolah The Priory. Di sana, Duke of Holdernesse
telah menunggu bersama sekretarisnya, Pak Wilder. Pak Wilder menegur Pak
Huxtable, karena telah menghubungi Holmes tanpa memberitahu Duke of Holdernesse
terlebih dahulu. Duke tidak ingin kejadian itu diketahui banyak orang.
Untunglah, Duke akhirnya setuju jika Holmes membantu penyelidikan. Tanpa buang
waktu, Holmes mulai menyelidiki. Ia membawa ke kamar sehelai peta besar.
Sherlock
menunjuk ke peta besar yang dibawanya. “Watson, perhatikan peta ini! Gambar
petak hitam ini adalah sekolah The Priory. Aku akan menancapkan pin di sini.
Lalu, jalan ini adalah jalan utama yang bercabang kearah Barat dan Timur
sekolah. Kamu lihat, tidak ada jalan kearah lain di sekeliling sekolah ini
dalam radius 2,5 km. Kalau pun ada orang yang berjalan kaki, maka dia harus
melalui jalan utama ini.”
“Betul juga,” komentar Watson
sambil memandangi peta.
“Aku sudah bicara dengan seorang
polisi yang bertugas di sebelah Timur ini. Dia berjaga dari pukul 00.00 tengah
malam sampai pukul 06.00 pagi,” kata Holmes. Ia lalu menceritakan hasil
wawancaranya dengan polisi itu.
Menurut Holmes, polisi ini
mengaku tidak meninggalkan pos jaganya selama bertugas. Pak polisi ini yakin,
tidak mungkin ada yang lewat jalan utama disebelah Timur itu tanpa terlihat
olehnya. Pak polisi ini juga tidak melihat seorang lelaki dewasa dan anak
laki-laki yang lewat.
Holmes lalu menunjuk sisi Barat
jalan utama dip eta. “Urusan wilayah Timur beres. Sekarang, kita bahas wilayah
Barat. Di sini ada penginapan bernama Red Bull. Pemiliknya seorang nyonya yang
sedang sakit. Dia dibawa ke dokter di Mackleton. Tetapi sang dokter sibuk
menangani pasien lain, sehingga nyonya itu baru diobati esok paginya.
Orang-orang di penginapan itu tidak tidur sepanjang malam, menunggu nyonya itu
datang. Mereka bergantian mengawasi jalanan, dan mereka pun yakin tidak melihat
seorangpun lewat,” cerita Holmes panjang lebar.
Holmes lalu menyimpulkan, jika
orang-orang di penginapan tidak bohong, maka kemungkinan Pak Heidegger dan Tuan
Muda Saltire tidak melewati jalan utama.
“Tetapi bagaimana dengan sepeda
Pak Heidegger?” Tanya Watson.
“Mungkin mereka melintasi
wilayah bagian Utara atau Selatan sekolah ini,” duga Holmes.
Holmes lalu menjelaskan sambil
menunjuk ke peta lagi. Di sebelah selatan sekolah, ada sebidang tanah luas yang
terbagi atas beberapa lahan kecil. Lahan-lahan kecil itu dibatasi
dinding-dinding batu di antaranya. Menurut Holmes, daerah itu susah dilewati
sepeda. Tak mungkin Pak Heidegger bersepeda di daerah itu.
Kini Holmes menunjuk ke peta
bagian Utara sekolah. Di peta, tampak sebuah hutan yang disebut Ragged Shaw. Di
seberang hutan itu, ada tanah lapang Lower Gill Moor. Tanah lapang itu
membentang sejauh 25 km dan menanjak sedikit demi sedikit. Di sisi lain tanah
lapang terbuka ini, berdiri Holdernesse Hall, rumah Duke of Holdernesse.
Jaraknya 25 km dari sekolah The Priory jika melalui jalan utama. Namun hanya 15
km jika melalui tanah lapang itu.
“Aku sudah meneliti juga daerah
ini,” kata Holmes. Menurutnya, beberapa petani di sekitar tanah lapang itu
memelihara sapi dan hewan berkaki empat lainnya. Di tempat itu, ada sebuah
gereja, beberapa pondok, dan sebuah penginapan. Di baliknya ada bukit-bukit
terjal.
“Kita harus memulai penyelidikan
kita di sana,” kata Holmes.
“Tapi, bagaimana soal sepeda
itu? Apa sepeda bisa melewati tanah lapang berbukit itu?” Tanya Watson lagi.
“Ya, ampun, Watson!” seru Holmes
tak sabar. “Seorang pengendara sepeda yang baik, tak perlu jalanan yang rata.
Tanah lapang itu terbagi atas beberapa lajur. Dan malam saat kejadian itu,
bulan sedang purnama penuh. Pengendara sepeda pasti bisa lewat di sana!”
Tiba-tiba, terdengar ketuakan di
pintu kamar Watson. Tak lama kemudian, Pak Huxtable sudah berada di dalam kamar
mereka. Ia memegang sebuah topi kriket biru dengan warna putih di bagian
atasnya.
“Akhirnya kita mendapat petunjuk!”
seru Pak Huxtable. “Terima kasih, Tuhan! Akhirnya kita menemukan jejak anak
itu. Ini topinya!”
“Di mana itu ditemukan?” Tanya
Holmes.
“Polisi berhasil melacak sebuah
caravan para Gipsy yang berkemah di tanah lapang. Polisi menemukan topi topi
ini di dalam caravan mereka.”
“Apa kata para Gipsy itu?” Tanya
Watson penasaran.
“Mereka tidak mau mengaku dan
berbohong. Mereka bilang, mereka hanya menemukan topi itu pada Selasa pagi.
Huh! Pasti mereka yang menculik Tuan Muda Saltire. Mereka pasti tahu di mana
anak itu. Syukurlah mereka semua telah diamankan di sel tahanan! Tidak lama
lagi, mereka pasti akan mengakui perbuatan mereka,” kata Pak Huxtable bersemangat.
Ia lalu meninggalkan kamar itu.
Holmes menatap Watson dan
berkata serius, “Polisi di daerah ini sama sekali tidak mendapatkan kemajuan
apapun. Biarkan saja para Gipsy itu ditahan. Tapi, kita harus mulai menyelidiki
Lower Gill Moor untuk mendapatkan hasil!”
Holmes kembali menunjuk ke peta
tadi.
“Lihat ini, Watson! Ada daerah
berair di tanah lapang ini. Ada beberapa bagian yang melebar menjadi rawa,
terutama di area antara Holdernesse Hall dan sekolah The Priory. Siapa tahu ada
jejak yang tertinggal di sana. Besok kita bersama-sama mencari prtunjuk untuk
misteri ini.”
Esoknya, pagi-pagi sekali,
Watson terbangun kaget karena Holmes sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
Ia berpakian lengkap dan tampak sudah sempat keluar rumah.
“Aku sudah memeriksa halaman
rumput dan gudang. Aku juga sudah menegok Ragged Shaw. Sekarang, cepat bersiap,
Watson. Kita akan sibuk sepanjang hari ini,” kata Holmes dengan mata bersinar
gembira.
Sayangnya, Sherlock Holmes harus
kecewa besar.
Dengan harapan mendapatkan
petunjuk, Holmes dan Watson menyusuri lahan bergambut cokelat muda. Di sana,
banyak jalan kecil untuk dilalui domba-domba. Mereka berdua akhirnya sampai di
daerah rawa. Rawa itu terletak di antara mereka berdua dan Holdernesse Hall.
“Jika Tuan Muda Saltire kembali
ke rumahnya, maka harus melewati tempat ini. Dan pasti ada jejaknya. Tapi,
tidak ada satu jejakpun, termasuk jejak guru Bahasa Jerman itu,” ucap Holmes.
Dengan wajah lesu, Holmes
menyusuri perbatasan. Ia memeriksa dengan jeli setiap noda lumpur pada
permukaan yang berlumut. Jejak domba sangat banyak. Dan ditemukan juga jejak
sapi yang jaraknya agak jauh. Selain itu, tidak ditemukan apa pun. Holmes
memandang murung pada hamparan rawa.
Tiba-tiba, “Wah…wah…apa ini?”
seru Watson. Saat itu, mereka berada di satu jalur kecil. Di tengah-tengah
tanah basahnya, Nampak jelas sekali jejak sepeda.
“Horee,” teriak Watson. “Kita
menemukan jejak sepeda!”
Akan tetapi, Holmes menggelengkan
kepala. Wajahnya lebih terlihat bingung daripada senang.
(Diadaptasi dari The Priory, Sir
Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 50 tahun XLIII, 17
Maret 2016
Ilustrasi : Iman
(Bersambung)