Translate

Friday, 1 July 2016

The PRIORY 4

Petualangan di THE PRIORY

Bagian 4

Ringkasan cerita yang lalu:
Sherlock Holmes dan Watson tiba di sekolah The Priory. Di sana, Duke of Holdernesse telah menunggu bersama sekretarisnya, Pak Wilder. Pak Wilder menegur Pak Huxtable, karena telah menghubungi Holmes tanpa memberitahu Duke of Holdernesse terlebih dahulu. Duke tidak ingin kejadian itu diketahui banyak orang. Untunglah, Duke akhirnya setuju jika Holmes membantu penyelidikan. Tanpa buang waktu, Holmes mulai menyelidiki. Ia membawa ke kamar sehelai peta besar.
                Sherlock menunjuk ke peta besar yang dibawanya. “Watson, perhatikan peta ini! Gambar petak hitam ini adalah sekolah The Priory. Aku akan menancapkan pin di sini. Lalu, jalan ini adalah jalan utama yang bercabang kearah Barat dan Timur sekolah. Kamu lihat, tidak ada jalan kearah lain di sekeliling sekolah ini dalam radius 2,5 km. Kalau pun ada orang yang berjalan kaki, maka dia harus melalui jalan utama ini.”
“Betul juga,” komentar Watson sambil memandangi peta.
“Aku sudah bicara dengan seorang polisi yang bertugas di sebelah Timur ini. Dia berjaga dari pukul 00.00 tengah malam sampai pukul 06.00 pagi,” kata Holmes. Ia lalu menceritakan hasil wawancaranya dengan polisi itu.
Menurut Holmes, polisi ini mengaku tidak meninggalkan pos jaganya selama bertugas. Pak polisi ini yakin, tidak mungkin ada yang lewat jalan utama disebelah Timur itu tanpa terlihat olehnya. Pak polisi ini juga tidak melihat seorang lelaki dewasa dan anak laki-laki yang lewat.
Holmes lalu menunjuk sisi Barat jalan utama dip eta. “Urusan wilayah Timur beres. Sekarang, kita bahas wilayah Barat. Di sini ada penginapan bernama Red Bull. Pemiliknya seorang nyonya yang sedang sakit. Dia dibawa ke dokter di Mackleton. Tetapi sang dokter sibuk menangani pasien lain, sehingga nyonya itu baru diobati esok paginya. Orang-orang di penginapan itu tidak tidur sepanjang malam, menunggu nyonya itu datang. Mereka bergantian mengawasi jalanan, dan mereka pun yakin tidak melihat seorangpun lewat,” cerita Holmes panjang lebar.
Holmes lalu menyimpulkan, jika orang-orang di penginapan tidak bohong, maka kemungkinan Pak Heidegger dan Tuan Muda Saltire tidak melewati jalan utama.
“Tetapi bagaimana dengan sepeda Pak Heidegger?” Tanya Watson.
“Mungkin mereka melintasi wilayah bagian Utara atau Selatan sekolah ini,” duga Holmes.
Holmes lalu menjelaskan sambil menunjuk ke peta lagi. Di sebelah selatan sekolah, ada sebidang tanah luas yang terbagi atas beberapa lahan kecil. Lahan-lahan kecil itu dibatasi dinding-dinding batu di antaranya. Menurut Holmes, daerah itu susah dilewati sepeda. Tak mungkin Pak Heidegger bersepeda di daerah itu.
Kini Holmes menunjuk ke peta bagian Utara sekolah. Di peta, tampak sebuah hutan yang disebut Ragged Shaw. Di seberang hutan itu, ada tanah lapang Lower Gill Moor. Tanah lapang itu membentang sejauh 25 km dan menanjak sedikit demi sedikit. Di sisi lain tanah lapang terbuka ini, berdiri Holdernesse Hall, rumah Duke of Holdernesse. Jaraknya 25 km dari sekolah The Priory jika melalui jalan utama. Namun hanya 15 km jika melalui tanah lapang itu.
“Aku sudah meneliti juga daerah ini,” kata Holmes. Menurutnya, beberapa petani di sekitar tanah lapang itu memelihara sapi dan hewan berkaki empat lainnya. Di tempat itu, ada sebuah gereja, beberapa pondok, dan sebuah penginapan. Di baliknya ada bukit-bukit terjal.
“Kita harus memulai penyelidikan kita di sana,” kata Holmes.
“Tapi, bagaimana soal sepeda itu? Apa sepeda bisa melewati tanah lapang berbukit itu?” Tanya Watson lagi.
“Ya, ampun, Watson!” seru Holmes tak sabar. “Seorang pengendara sepeda yang baik, tak perlu jalanan yang rata. Tanah lapang itu terbagi atas beberapa lajur. Dan malam saat kejadian itu, bulan sedang purnama penuh. Pengendara sepeda pasti bisa lewat di sana!”
Tiba-tiba, terdengar ketuakan di pintu kamar Watson. Tak lama kemudian, Pak Huxtable sudah berada di dalam kamar mereka. Ia memegang sebuah topi kriket biru dengan warna putih di bagian atasnya.
“Akhirnya kita mendapat petunjuk!” seru Pak Huxtable. “Terima kasih, Tuhan! Akhirnya kita menemukan jejak anak itu. Ini topinya!”
“Di mana itu ditemukan?” Tanya Holmes.
“Polisi berhasil melacak sebuah caravan para Gipsy yang berkemah di tanah lapang. Polisi menemukan topi topi ini di dalam caravan mereka.”
“Apa kata para Gipsy itu?” Tanya Watson penasaran.
“Mereka tidak mau mengaku dan berbohong. Mereka bilang, mereka hanya menemukan topi itu pada Selasa pagi. Huh! Pasti mereka yang menculik Tuan Muda Saltire. Mereka pasti tahu di mana anak itu. Syukurlah mereka semua telah diamankan di sel tahanan! Tidak lama lagi, mereka pasti akan mengakui perbuatan mereka,” kata Pak Huxtable bersemangat. Ia lalu meninggalkan kamar itu.
Holmes menatap Watson dan berkata serius, “Polisi di daerah ini sama sekali tidak mendapatkan kemajuan apapun. Biarkan saja para Gipsy itu ditahan. Tapi, kita harus mulai menyelidiki Lower Gill Moor untuk mendapatkan hasil!”
Holmes kembali menunjuk ke peta tadi.
“Lihat ini, Watson! Ada daerah berair di tanah lapang ini. Ada beberapa bagian yang melebar menjadi rawa, terutama di area antara Holdernesse Hall dan sekolah The Priory. Siapa tahu ada jejak yang tertinggal di sana. Besok kita bersama-sama mencari prtunjuk untuk misteri ini.”
Esoknya, pagi-pagi sekali, Watson terbangun kaget karena Holmes sudah berdiri di samping tempat tidurnya. Ia berpakian lengkap dan tampak sudah sempat keluar rumah.
“Aku sudah memeriksa halaman rumput dan gudang. Aku juga sudah menegok Ragged Shaw. Sekarang, cepat bersiap, Watson. Kita akan sibuk sepanjang hari ini,” kata Holmes dengan mata bersinar gembira.
Sayangnya, Sherlock Holmes harus kecewa besar.
Dengan harapan mendapatkan petunjuk, Holmes dan Watson menyusuri lahan bergambut cokelat muda. Di sana, banyak jalan kecil untuk dilalui domba-domba. Mereka berdua akhirnya sampai di daerah rawa. Rawa itu terletak di antara mereka berdua dan Holdernesse Hall.
“Jika Tuan Muda Saltire kembali ke rumahnya, maka harus melewati tempat ini. Dan pasti ada jejaknya. Tapi, tidak ada satu jejakpun, termasuk jejak guru Bahasa Jerman itu,” ucap Holmes.
Dengan wajah lesu, Holmes menyusuri perbatasan. Ia memeriksa dengan jeli setiap noda lumpur pada permukaan yang berlumut. Jejak domba sangat banyak. Dan ditemukan juga jejak sapi yang jaraknya agak jauh. Selain itu, tidak ditemukan apa pun. Holmes memandang murung pada hamparan rawa.
Tiba-tiba, “Wah…wah…apa ini?” seru Watson. Saat itu, mereka berada di satu jalur kecil. Di tengah-tengah tanah basahnya, Nampak jelas sekali jejak sepeda.
“Horee,” teriak Watson. “Kita menemukan jejak sepeda!”
Akan tetapi, Holmes menggelengkan kepala. Wajahnya lebih terlihat bingung daripada senang.
(Diadaptasi dari The Priory, Sir Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 50 tahun XLIII, 17 Maret 2016
Ilustrasi : Iman
(Bersambung)