Translate

Friday, 1 July 2016

The PRIORY 4

Petualangan di THE PRIORY

Bagian 4

Ringkasan cerita yang lalu:
Sherlock Holmes dan Watson tiba di sekolah The Priory. Di sana, Duke of Holdernesse telah menunggu bersama sekretarisnya, Pak Wilder. Pak Wilder menegur Pak Huxtable, karena telah menghubungi Holmes tanpa memberitahu Duke of Holdernesse terlebih dahulu. Duke tidak ingin kejadian itu diketahui banyak orang. Untunglah, Duke akhirnya setuju jika Holmes membantu penyelidikan. Tanpa buang waktu, Holmes mulai menyelidiki. Ia membawa ke kamar sehelai peta besar.
                Sherlock menunjuk ke peta besar yang dibawanya. “Watson, perhatikan peta ini! Gambar petak hitam ini adalah sekolah The Priory. Aku akan menancapkan pin di sini. Lalu, jalan ini adalah jalan utama yang bercabang kearah Barat dan Timur sekolah. Kamu lihat, tidak ada jalan kearah lain di sekeliling sekolah ini dalam radius 2,5 km. Kalau pun ada orang yang berjalan kaki, maka dia harus melalui jalan utama ini.”
“Betul juga,” komentar Watson sambil memandangi peta.
“Aku sudah bicara dengan seorang polisi yang bertugas di sebelah Timur ini. Dia berjaga dari pukul 00.00 tengah malam sampai pukul 06.00 pagi,” kata Holmes. Ia lalu menceritakan hasil wawancaranya dengan polisi itu.
Menurut Holmes, polisi ini mengaku tidak meninggalkan pos jaganya selama bertugas. Pak polisi ini yakin, tidak mungkin ada yang lewat jalan utama disebelah Timur itu tanpa terlihat olehnya. Pak polisi ini juga tidak melihat seorang lelaki dewasa dan anak laki-laki yang lewat.
Holmes lalu menunjuk sisi Barat jalan utama dip eta. “Urusan wilayah Timur beres. Sekarang, kita bahas wilayah Barat. Di sini ada penginapan bernama Red Bull. Pemiliknya seorang nyonya yang sedang sakit. Dia dibawa ke dokter di Mackleton. Tetapi sang dokter sibuk menangani pasien lain, sehingga nyonya itu baru diobati esok paginya. Orang-orang di penginapan itu tidak tidur sepanjang malam, menunggu nyonya itu datang. Mereka bergantian mengawasi jalanan, dan mereka pun yakin tidak melihat seorangpun lewat,” cerita Holmes panjang lebar.
Holmes lalu menyimpulkan, jika orang-orang di penginapan tidak bohong, maka kemungkinan Pak Heidegger dan Tuan Muda Saltire tidak melewati jalan utama.
“Tetapi bagaimana dengan sepeda Pak Heidegger?” Tanya Watson.
“Mungkin mereka melintasi wilayah bagian Utara atau Selatan sekolah ini,” duga Holmes.
Holmes lalu menjelaskan sambil menunjuk ke peta lagi. Di sebelah selatan sekolah, ada sebidang tanah luas yang terbagi atas beberapa lahan kecil. Lahan-lahan kecil itu dibatasi dinding-dinding batu di antaranya. Menurut Holmes, daerah itu susah dilewati sepeda. Tak mungkin Pak Heidegger bersepeda di daerah itu.
Kini Holmes menunjuk ke peta bagian Utara sekolah. Di peta, tampak sebuah hutan yang disebut Ragged Shaw. Di seberang hutan itu, ada tanah lapang Lower Gill Moor. Tanah lapang itu membentang sejauh 25 km dan menanjak sedikit demi sedikit. Di sisi lain tanah lapang terbuka ini, berdiri Holdernesse Hall, rumah Duke of Holdernesse. Jaraknya 25 km dari sekolah The Priory jika melalui jalan utama. Namun hanya 15 km jika melalui tanah lapang itu.
“Aku sudah meneliti juga daerah ini,” kata Holmes. Menurutnya, beberapa petani di sekitar tanah lapang itu memelihara sapi dan hewan berkaki empat lainnya. Di tempat itu, ada sebuah gereja, beberapa pondok, dan sebuah penginapan. Di baliknya ada bukit-bukit terjal.
“Kita harus memulai penyelidikan kita di sana,” kata Holmes.
“Tapi, bagaimana soal sepeda itu? Apa sepeda bisa melewati tanah lapang berbukit itu?” Tanya Watson lagi.
“Ya, ampun, Watson!” seru Holmes tak sabar. “Seorang pengendara sepeda yang baik, tak perlu jalanan yang rata. Tanah lapang itu terbagi atas beberapa lajur. Dan malam saat kejadian itu, bulan sedang purnama penuh. Pengendara sepeda pasti bisa lewat di sana!”
Tiba-tiba, terdengar ketuakan di pintu kamar Watson. Tak lama kemudian, Pak Huxtable sudah berada di dalam kamar mereka. Ia memegang sebuah topi kriket biru dengan warna putih di bagian atasnya.
“Akhirnya kita mendapat petunjuk!” seru Pak Huxtable. “Terima kasih, Tuhan! Akhirnya kita menemukan jejak anak itu. Ini topinya!”
“Di mana itu ditemukan?” Tanya Holmes.
“Polisi berhasil melacak sebuah caravan para Gipsy yang berkemah di tanah lapang. Polisi menemukan topi topi ini di dalam caravan mereka.”
“Apa kata para Gipsy itu?” Tanya Watson penasaran.
“Mereka tidak mau mengaku dan berbohong. Mereka bilang, mereka hanya menemukan topi itu pada Selasa pagi. Huh! Pasti mereka yang menculik Tuan Muda Saltire. Mereka pasti tahu di mana anak itu. Syukurlah mereka semua telah diamankan di sel tahanan! Tidak lama lagi, mereka pasti akan mengakui perbuatan mereka,” kata Pak Huxtable bersemangat. Ia lalu meninggalkan kamar itu.
Holmes menatap Watson dan berkata serius, “Polisi di daerah ini sama sekali tidak mendapatkan kemajuan apapun. Biarkan saja para Gipsy itu ditahan. Tapi, kita harus mulai menyelidiki Lower Gill Moor untuk mendapatkan hasil!”
Holmes kembali menunjuk ke peta tadi.
“Lihat ini, Watson! Ada daerah berair di tanah lapang ini. Ada beberapa bagian yang melebar menjadi rawa, terutama di area antara Holdernesse Hall dan sekolah The Priory. Siapa tahu ada jejak yang tertinggal di sana. Besok kita bersama-sama mencari prtunjuk untuk misteri ini.”
Esoknya, pagi-pagi sekali, Watson terbangun kaget karena Holmes sudah berdiri di samping tempat tidurnya. Ia berpakian lengkap dan tampak sudah sempat keluar rumah.
“Aku sudah memeriksa halaman rumput dan gudang. Aku juga sudah menegok Ragged Shaw. Sekarang, cepat bersiap, Watson. Kita akan sibuk sepanjang hari ini,” kata Holmes dengan mata bersinar gembira.
Sayangnya, Sherlock Holmes harus kecewa besar.
Dengan harapan mendapatkan petunjuk, Holmes dan Watson menyusuri lahan bergambut cokelat muda. Di sana, banyak jalan kecil untuk dilalui domba-domba. Mereka berdua akhirnya sampai di daerah rawa. Rawa itu terletak di antara mereka berdua dan Holdernesse Hall.
“Jika Tuan Muda Saltire kembali ke rumahnya, maka harus melewati tempat ini. Dan pasti ada jejaknya. Tapi, tidak ada satu jejakpun, termasuk jejak guru Bahasa Jerman itu,” ucap Holmes.
Dengan wajah lesu, Holmes menyusuri perbatasan. Ia memeriksa dengan jeli setiap noda lumpur pada permukaan yang berlumut. Jejak domba sangat banyak. Dan ditemukan juga jejak sapi yang jaraknya agak jauh. Selain itu, tidak ditemukan apa pun. Holmes memandang murung pada hamparan rawa.
Tiba-tiba, “Wah…wah…apa ini?” seru Watson. Saat itu, mereka berada di satu jalur kecil. Di tengah-tengah tanah basahnya, Nampak jelas sekali jejak sepeda.
“Horee,” teriak Watson. “Kita menemukan jejak sepeda!”
Akan tetapi, Holmes menggelengkan kepala. Wajahnya lebih terlihat bingung daripada senang.
(Diadaptasi dari The Priory, Sir Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 50 tahun XLIII, 17 Maret 2016
Ilustrasi : Iman
(Bersambung)

Saturday, 7 May 2016

THE PRIORY 3

Petualangan di THE PRIORY

Bagian 3

Ringkasan cerita yang lalu:
Pak Huxtable menjelaskankejadian hilangnya Tuan Muda Saltire di The Priory. Katanya, guru Bahasa Jerman yang ikut hilang itu, sepertinya turun lewat rambatan ivy. Sepedanya juga menghilang. Polisi telah menghentikan penyelidikan setelah gagal mencari anak itu dan guru Bahasa Jerman. Menurut Pak Huxtable, sebelum anak itu menghilang, ia mendapatkan sepucuk surat dari ayahnya. Holmes dan Watson akhirnya berangkat ke The Priory malam itu.
                Sherlock Holmes, Watson, dan Pak Huxtable kini sudah berada di ruangan depan The Priory. Di sana, tenyata telah ada Yang Mulia Duke of Holdernesse dan sekretarisnya, Pak Wilder.
Yang Mulia Duke of Holdernesse bertubuh tinggi dan berpakaian sangat rapi.
Wajahnya tirus dengan hidung panjang yang melengkung aneh. Kulitnya pucat sementara janggutnya berwarna merah panjang. Ia memakai jas putih dan tampak rantai jam keemasannya menjulur keluar dari saku.
Di sebelah Duke of Holdernesse,  berdiri Pak Wilder, sekretaris pribadi Duke of Holdernesse. Pak Wilder yang masih muda itu, bertubuh kecil dan tampak gugup. Ia memulai percakapan dengan nada suaranya yang tajam, seperti memarahi Pak Huxtable.
“Saya menelepon Anda tadi pagi, Pak Huxtable, tapi saya terlambat mencegah Anda pergi ke London. Saya tahu, Anda akan mengunjungi Pak Sherlock Holmes untuk meminta bantuan menyelidiki kasus ini. Yang Mulia terkejut saat tahu Anda mengambil tindakan itu tanpa bertanya dulu pada Yang Mulia…”
“Tapi, Pak Wlider… Polisi telah gagal menyelidiki. Itu sebabnya saya meminta bantuan Pak Sherlock Ho…”
“Tapi, Pak huxtable… Yang Mulia tidak mau masalah ini jadi pembicaraan banyak orang…” potong Pak Wilder.
“Maafkan, saya… Baiklah, masalah ini akan segera saya perbaiki,” jawab Pak Huxtable yang merasa diserang. “Pak Sherlock Holmes dapat kembali ke London dengan kereta paling pagi besok.”
Akan tetapi, Sherlock Holmes menjawab dengan suara mantap, “Itu tidak akan terjadi, Pak Huxtable!” Lalu sambungnya, “Udara di sini begitu menyegarkan dan menyenangkan. Saya menawarkan diri untuk menyelidiki masalah ini beberapa hari. Saya akan memanfaatkan otak saya sebaik-baiknya. Apakah saya akan menginap di kediaman Anda, ataupun di penginapan di desa, itu terserah kepada Anda, Pak Huxtable.”
Pak Huxtable tampak bingung.
Dan tak disangka, suara menggelegar Yang Mulia Duke of Holdernesse, menyelamatkan Pak Huxtable.
“Saya setuju dengan pendapat Pak Wilder, Pak Huxtable. Seharusnya Anda bertanya dulu pada saya, sebelum meminta bantuan Pak Holmes. Tetapi, karena Anda sangat yakin dengan kemampuan Pak Holmes, rasanya, tidak ada salahnya kalau kita tidak menyia-nyiakan keahliannya. Dan daripada menginap di penginapan desa, saya sangat senang jika Pak Holmes mau menginap di rumah saya, Holdernesse Hall.”
Sherlock Holmes menjawab dengan sopa, “Terima kasih, Yang Mulia Duke of Holdernesse. Mungkin sebaiknya saya tetap berada di tempat kejadian misteri, di sini. Karena saya akan menyelidiki kasus ini.”
“Silakan lakukan yang terbaik menurut Anda, Pak Holmes. Saya dan pak Wilder siap memberikan keterangan apa pun yang Anda minta,” ujar Duke of Holdernesse.
“Mungkin saya akan mengunjungi Anda di kediaman Anda, Yang Mulia, sekarang ini, saya ingin tahu, apakah Anda sudah punya penjelasan berkaitan dengan hilangnya putra Anda?”
“Belum, Pak Holmes.”
“Maafkan jika pertanyaan saya ini menyakiti Anda. Tetapi, saya tetap harus bertanya. Apakah mungkin, istri Anda terlibat dengan menghilangnya putra Anda secara misterius ini?”
Wajah sang bangsawan itu tampak ragu.
“Tidak…” Akhirnya ia menjawab.
“Apakah ada yang meminta uang tebusan, Yang Mulia?” tanya Holmes lagi.
“Tidak!”
“Satu pertanyaan lagi, Yang Mulia. Apakah Anda mengirim surat pada putra Anda, bertepatan di hari dia diculik?”
“Tidak. Saya menulis sehari sebelum putra saya diculik.’
“Tetapi, putra Anda menerimanya di hari ia menghilang?” tanya Holmes lagi.
“Benar.”
“Apakah ada sesuatu di dalam surat Anda itu, yang mungkin membuat putra Anda lari dari sekolahnya?”
“Tidak. Tentu saja tidak.”
“Apakah Anda mengirimkan sendiri surat tersebut?” Holmes kembali bertanya.
Sebelum bangsawan itu menjawab, sekretarisnya menjawab dengan menggebu-gebu. “Tentu saja Yang Mulia tidak mengirimkan sendiri surat-suratnya. Surat tersebut berada di atas meja kerjanya. Saya yang memasukkan semua surat beliau ke dalam tas pos.”
“Berapa banyak surat yang Anda tulis hari itu, Yang Mulia?” tanya Holmes kembali pada Duke of Holdernesse.
“20 hingga 30 pucuk surat. Tapi, apa hubungannya dengan masalah penculikan ini?” tanya Duke of Holdernesse heran.
“Saya sendiri sudah menyarankan pada polisi untuk memusatkan penyelidikan ke Prancis Selatan. Tadi saya mengatakan bahwa saya tidak berpikir istri saya terlibat masalah ini. Tapi, putra saya itu sering berbuat sesuka hati. Mungkin saja dia terbang ke Prancis untuk menemui ibunya, dengan ditemani guru Bahasa Jerman itu. Nah, sekarang, saya akan kembali ke Holdernesse Hall, Pak Holmes.”
Watson melihat sepertinya Holmes ingin mengajukan pertanyaan lagi. Namun bangsawan itu melangkah pergi, dan wawancara pun selesai.
Ketika sang bangsawan dan sekretarisnya sudah pergi, Holmes dengan penuh semangat segera memulai penyelidikannya.
Kamar sang anak diperiksa dengan teliti. Namun tidak ada hasil apa pun, kecuali kejelasan kalau anak itu melarikan diri melalui jendela kamar. Kamar si guru Bahasa Jerman juga tidak memberi petunjuk apapun. Rambatan ivy jelas telah membantu menopang berat tubuh si guru Bahasa Jerman. Sherlock Holmes dan Watson juga bisa melihat bekas jejak tumit si guru yang bertumpu ketika ia mencapai tanah. Itu adalah satu-satunya petunjuk yang didapatkan dalam penyelidikan awal Holmes dan Watson.
Sherlock Holmes meninggalkan sekolah Pak Huxtable seorang diri. Ia baru kembali pada pukul 11 malam setelah sibuk menyelidiki keadaan sekeliling sekolah. Watson sudah masuk lebih dulu ke kamar yang disediakan Pak Huxtable.
Sherlock membawa pulang sebuah peta besar yang menggambarkan lingkungan di sekitar The Priory. Peta itu dibawanya ke kamrnya dan Watson. Peta itu ia bentangkan. Diletakkannya lampu meja sebagai penahannya di tepi peta itu. Ia lalu mulai mununjuk titik-titik yang menarik perhatiannya pada peta.
“Kasus ini makin menarik, Watson,” katanya.
“Jelas ada bebrapa tempat yang berhubungan di sini. Pada awal penyelidikan ini, kita harus mempelajari peta dan keadaan sekeliling kita ini. Pasti bisa membantu penyelidikan kita!” ujar Holmes lagi pada kawannya.
(Diadaptasi dari The Priory, Sir Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 49 tahun XLIII, 10 Maret 2016
Ilustrasi : Iman

(Bersambung)

Tuesday, 26 April 2016

THE PRIORY 2

Petualangan di THE PRIORY

Bagian 2

Ringkasan cerita minggu lalu:
Pak Huxtable tiba di kantor Sherlock Holmes dan jatuh pingsan kelelahan. Setelah sadar kembali, Pak Huxtable bercerita bahwa ia adalah kepala sekolah The Priory, sekolah bergengsi yang terletak di Mackleton. Pak Huxtable minta tolong pada Sherlock Holmes untuk membantunya mencari murid barunya yang menghilang tanpa jejak. Tuan Muda Saltire yang berusia 10 tahun adalah putera tunggal Duke of Holdernesse, seorang yang sangat terpandang di Inggris Raya. Selain Tuan Muda Saltire, Pak Heidegger, guru Bahasa Jerman di sekolah itu juga menghilang.
  Pak Huxtable menjelaskan dengan teliti keadaan sekolahnya. “Kamar Pak Heidegger juga berada di lantai 2, di ujung, menghadap ke arah yang sama dengan kamar Tuan Muda Saltire. Kasurnya terlihat seperti bekas ditiduri. Kemeja dan kaus kakinya tergeletak begitu saja di lantai. Ia pasti turun melalui rambatan ivy. Kami mendapatkan jejak kakinya di halaman. Sepedanya yang biasa ia simpan di gudang kecil di sebelah halaman pun turut lenyap.
“Ia telah mengajar di sekolah saya selama 2 tahun. Latar belakangnya bagus. Ia seorang yang pendiam. Sejak hilangnya Tuan Muda Saltire hari Kamis lalu, kami sama sekali tidak menemukan jejak maupun petunjuk. Kami segera mengirimkan pemberitahuan ke Holdernesse Hall. Kami sempat berpikir, mungkin saja Tuan Muda Saltire rindu akan rumahnya dan pulang. Tapi ternyata tidak. Duke of Holdernesse, ayahnya , menjadi sangat gelisah. Saya sendiri menjadi panik karena tanggung jawab saya sangat besar. Itu sebabnya saya sampai jatuh pingsan,” kata Pak Huxtable.
Tuan Holmes, jika Anda ingin mengerahkan seluruh kemampuan Anda, maka inilah saat yang tepat. Anda tidak akan pernah lagi mendapatkan kasus sehebat ini.”
Sherlock Holmes sejak tadi mendengarkan dengan Wseksama cerita kapala sekolah yang malang itu. Dengan alis berkerut, ia berkonsentrasi pada misteri baru itu. Ia lalu mengeluarkan buku catatannya dan menuliskan beberapa kalimat di dalamnya.
“Kenapa Anda tidak datang pada saya lebih cepat…” kata Holmes tegas. “Seharusnya, tanaman ivy dan rumput di tanah yang diinjak itu bisa memberikan petunjuk yang lebih besar kalau saya yang mengamatinya.”
“Jangan salahkan saya, Pak Holmes, Yang Mulia Duke of Holdernesse sangat menghindari gosip. Ia takut dunia akan tahu kejadian yang dialami keluarganya ini.”
Tapi, apakah sudah ada penyelidikan resmi dari polisi?” Tanya Holmes.
“Sudah, Pak Holmes… Sayang, penyelidikannya mengecewakan. Ada laporan tentang seorang anak lelaki dan seorang lelaki dewasa yang naik kereta paling pagi. Pasangan itu berhasil dikejar di Liverpool. Tapi ternyata mereka bukan Tuan Muda Saltire dan guru bahasa Jerman itu. Sekarang, penyelidikan sudah diakhiri.”
“Jadi, tiga hari terbuang sia-sia. Sungguh buruk,” keluh Holmes.
“Saya rasa, Anda benar,” kata Pak Huxtable.
“Saya bersedia menyelidiki kasus ini. Apakah Anda dapat melacak hubungan antara si anak hilang dengan guru bahasa Jerman ini?.”
“Sama sekali tidak. Mereka tidak saling kenal, karena Tuan Muda Saltire tidak mengambil kelas Bahasa Jerman.”
“Sungguh aneh,” gumam Sherlock. “Apakah anak itu punya sepeda?”
“Tidak.”
“Apakah ada sepeda lain yang turut menghilang?”
“Tidak.”
“Jadi, apakah menurut Anda, guru bahasa Jerman itu kabur dengan sepeda sambil menggendong Tuan Muda Saltire di lengannya?” Tanya Holmes lagi.
“Tentu saja tidak. Sepedanya itu mungkin hanya untuk membuat jejak palsu. Sepeda itu lalu disembunyikan di suatu tempat. Mereka lalu pergi dengan berjalan kaki.”
“Bisa jadi begitu. Jadi, menurut Anda, itu jejak yang sengaja dibuat untuk mengelabui, ya? Apakah ada sepeda lain dalam gudang itu?”
“Ada beberapa.”
“Mengapa guru bahasa Jerman itu tidak menyembunyikan dua sepeda saja? Supaya terlihat seperti mereka kabur dengan sepeda-sepeda itu?” gumam Holmes.
“Betul juga… Kalau dia mau membuat jejak palsu, seharusnya, sepeda-sepeda itu juga disembunyikan, ya.”
“Teori jejak palsu itu sepertinya tidak mungkin. Tetapi kejadian ini sendiri bisa menjadi awal penyelidikan yang bagus. Sepeda kan, bukan barang yang mudah dihancurkan atau disembunyikan,” kata Holmes bersemangat. Ia lalu melanjutkan.
“Pertanyaan lain, apakah ada yang menghubungi Anda dan menemui anak itu pada hari sebelum anak itu menghilang?”
“Tidak.” Pak Huxtable menggeleng.
“Apakah anak itu mendapatkan surat?”
“Ya. Sepucuk surat dari ayahnya.”
“Apakah Anda membuka suratnya?” Tanya Holmes lagi.
“Tidak.” Pak Huxtable menggeleng lagi.
“Bagaimana Anda tahu surat itu dari ayahnya?” Holmes terus mencecar.
“Ada cap lambang keluarga tertera pada amplopnya. Surat itu ditujukan pada anaknya dalam tulisan tangan anaknya yang kaku. Selain itu, Yang Mulia Duke of Holdernesse sendiri yang bilang, ia memang menyurati putanya.”

“Apakah ia pernah mendapat surat dari Prancis?” Tanya Holmes lagi.
“Tidak. Tidak pernah.”
“Anda tentu mengerti, mengapa saya bertanya soal surat. Kita tidak tahu, anak itu dibawa pergi dengan paksa atau dia ikut dengan sukarela. Kalau anak itu ikut dengan sukarela, pasti pelru seseorang untuk membujuknya. Tapi, kalau dia tidak bertemu siapa pun, maka bujukan itu pasti datang lewat surat yang diterimanya. Itu sebabnya saya ingintahu, siapa saja yang menyuratinya.”
“Tapi Tuan Muda Saltire lebih sayang pada ibunya, kan?”
“Benar.” Pak Huxtable mengangguk.
“Tuan Muda Saltire sendiri yang mengatakannya?”
“Bukan. Saya beberapa kali ngobrol secara rahasia dengan Pak Wilder, Sekretaris Duke of Holdernesse. Dia yang menjelaskan tentang perasaan Tuan Muda Saltire itu,” jelas Pak Huxtable.
“Baiklah. Omong-omong, apakah surat dari ayahnya itu ada di kamar Tuan Muda Saltire setelah dia menghilang?”
“Tidak ada. Mungkin Tuan Muda Saltire membawanya.”
“Holmes mengangguk mengerti lalu berkata, “Baiklah, kalau begitu, saya akan segera memesan mobil. Kami akan segera berangkat ke Mackleton, Pak Huxtable. Dan tolong jangan ceritakan soal kami pada siapapun. Biarkan saja orang-orang mengira bahwa masih ada penyelidikan di Liverpool. Atau polisi masih melakukan pengejaran di daerah lainnya. Dengan begitu, saya bisa dangan tenang mengdakan penyelidikan di sekolah Anda. Siapa tahu, saya dan Watson masih bisa menemukan petunjuk…”  
Malam itu, Holmes dan Wtson pun tiba di The Priory. Sekolah milik Pak Huxtable itu terletak di pegunungan. Holmes dan Watson tiba di sana di saat hari sudah gelap dan cuaca  begitu dingin. Misteri sedang menanti mereka….
(bersambung)
(Diadaptasi dari The Priory, Sir Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 48 tahun XLIII, 3 Maret 2016
Ilustrasi : Iman

Saturday, 16 April 2016

The Priory 1

Petualangan di THE PRIORY

Bagian 1

                Sherlock Holmes adalah detektif terkenal cerdas dan baik hati. Ia memiliki sahabat baik bernama dokter John Watson. Kantor mereka terletak di Baker Street. Suatu hari, mereka kedatangan tamu yang unik. Di depan pintu kantor, tamu itu memberikan kartu namanya Thorneycroft Huxtable, M.A, Ph.D., dan seterusnya. Gelar akademiknya panjang sekali.
Pak Huxtable ini bertubuh besar, kuat dan gagah. Anehnya, setelah ia masuk ke ruangan kantor, tiba-tiba ia sempoyongan dan terjatuh pingsan ke lantai. Watson dan Sherlock Holmes terpana beberapa saat. Holmes lalu cepat-cepat mengalasi kepala Huxtable dengan sebuah bantal. Wajah Pak Huxtable terlihat pucat. Kantong matanya yang tebal berwarna gelap. Dagunya sepertinya tidak sempat dicukur.
Kerah dan kemejanya tampak kusut. Ujung-ujung rambutnya mencuat kesana kemari seperti belum disisir. Ia sepertinya baru saja melakukan perjalanan panjang.
“Ada apa dengannya, Watson?” Holmes bertanya. “Sepertinya ia amat sangat kelelahan, ditambah kemungkinan kelaparan dan kehabisan tenaga,” jawab Watson sambil meraba denyut nadi sang tamu.
Holmes menarik secarik kertas dari kantong di jas Pak Huxtable. “Ini tiket pulang-pergi dari Mackleton, Inggris Utara,” kata Holmes. “Tadi, pasti dia berangkat pagi pagi sekali dari Mackleton.”
Kelopak mata orang itu mulai berkedut perlahan. Matanya lalu terbuka. Sepasang bola matanya yang berwarna kelabu, memandang kosong pada Watson dan Sherlock. Ia buru-buru berdiri dengan wajah memerah malu.
 “Maafkan kelemahan saya ini, Pak Holmes. Saya terlalu gugup…”
“Oo tenang saja, tidak apa-apa,” Watson menenangkan. Pak Huxtable lalu menatap Sherlock Holmes. “Saya khusus datang kesini, untuk mengundang Anda ikut dengan saya. Saya khawatir, kalau hanya mengirim surat, Anda tidak akan yakin kalau kasus saya ini sangat serius. Pak Holmes, tolong ikut dengan saya ke Meckleton dengan kereta berikut…” mohon Pak Huxtable.                                                                                                                     
Sherlock Holmes menggelengkan kepalanya. “Silahkan tanya pada teman saya ini, dr. Watson. Kami berdua sangat sibuk. Kami harus menyelesaikan beberapa kasus penipuan dan pembunuhan. Cuma kasus yang maha pentinglah yang bisa membuat saya keluar dari London saat ini.”
“Tamu itu mengangkat kedua tangannya ke atas sembari berkata, “Tentu saja ini kasus maha penting, Pak Holmes. Apakah kalian sama sekali tidak mendengar tentang kasus penculikan putra tunggal dari Duke of Holdernesse?”
“Apa? Sang mantan Menteri Kabinet?” seru Holmes.
“Betul sekali. Kami sudah berusaha keras agar berita ini tidak keluar di surat kabar. Tapi tetap ada sedikit gossip yang beredar. Saya piker kalian telah mendengarnya.”
Holmes mengulurkan lengannya dan meraih keluar jilid ‘H’ dari koleksi buku ensiklopedia Tokoh terkenal.
“Holdernesse, Duke ke-6… Bukan main banyaknya gelar bangsawannya. Ada Baron of Beverly, Earl of Carston. Ia menikah dengan Edith putri dari Sir Charles Appledore pada tahun 1888. Putra tungal sekaligus pewaris satu-satunya bernama: Lord Saltire. Pemilik dari tanah seluas 250.000 hektar yang mengandung mineral di Lancashire & Wales. Beralamat di Carlton House Terrace; Holdernesse Hall, Hallamshire. Menjadi ketua Sekretaris Negara untuk… Wah,wah,wah, dia ini pasti orang paling penting di negeri kita.”
“yang paling penting dan mungkin terkaya. Saya tahu bahwa Anda teliti dalam mengerjakan semua pekerjaan professional Anda, Tuan Holmes. Yang Mulia Duke of Holdrenesse telah sepakat untuk memberikan cek sebesar 5000 poundsterling lagi bagi siapapun yang bisa menemukan putranya. Ditambah 1000 Poundsterling lagi bagi yang bisa memberitahukan padanya,siapa penculik putranya itu.”
“Sungguh tawaran yang sangat menarik,” kata Holmes. “Watson, saya kira sebainya kita akan temani Pak Huxtable kembali ke Mackleton.
“Dan sekarang, Pak Huxtable… Silahkan habiskan susu dan biscuit ini. Lalu, tolong jelaskan pada saya apa yang sebenarnya terjadi. Apa hubungan Anda dengan kejadian penculikan ini? Jika meliaht janggut Anda yang mulai tumbuh, sepertinya kejadian ini terjadi 3 hari lalu, dan membuat anda kacau. Mengapa anda baru datang untuk meminta bantuan saya?” tanya Holmes.
Pak Huxtable menghabiskan susu dan beberapa potong biscuit yang disiapkan Watson. Warna mata dan pipinya  kembali cerah. Ia bersiap memberikan penjelasan.
“Saya adalah pendiri sekaligus kepala sekolah dari The Priory. The Priory adalah sekolah persiapan terbaik di seluruh London. Ini bukan sekolah biasa. Siswanya adalah anak-anak bangsawan dan tokoh-tokoh penting di negeri ini.”
“Saya merasa sangat bangga ketika tiga minggu lalu, Duke of Holdernesse mengirimkan Pak Wilder sekretarisnya, ke The priory. Menurut Pak Wilder, Tuan Muda Saltire yang berusia sepuluh tahun, satu-satunya putra sekaligus pewaris Duke of Holdernesse, akan bersekolah di The Priory. Saya betul-betul tidak menyangka, kalau akan terjadi kejadian mengerikan ini.”
“Anak itu tiba pada tanggal 1 Mei, tepat pada hari permulaan semester. Tuan Muda Saltire sangat pandai dan cepat menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Tidak bermaksud bergosip, tapi menurut kabar, ayah ibunya sering bertengkar dan untuk sementara berpisah. Sang ibu pindah ke Perancis Selatan. Tuan Muda Saltire menjadi sangat pemurung setelah kepergian ibunya. Itu sebabnya ayahnya, Yang Mulia Duke of Holdernesse, mengirimkannya ke sekolah saya. Dua minggu bersama kami, cukup membuat Tuan Muda kembali bahagia. Ia terakhir kali terlihat pada tanggal 13 Mei lalu. Kamar tidurnya terletak di lantai dua. Jendela kamarnya terbuka dan ada tanaman ivy yang tumbuh kokoh hingga ke bawah. Tidak ada jejak kaki yang terlacak pada tanah dibawahnya, tetapi kami yakin bahwa itulah satu-satunya jalan yang mungkin ia lalui untuk pergi.”
“Kami baru tahu Tuan Muda Saltire tidak ada pada pukul 07.00 Selasa paginya. Kasurnya beramtakan bekas ditiduri. Ia pergi berpakaian lengkap dengan seragam jas hitam dan celana panjang abu-abu tua. Tidak terlihat tanda-tanda bahwa ada orang yang masuk ke kamarnya. Tidak ada tangisan juga. Sebab, Caunter, salah satu anak yang tinggal di kamar sebelah, tidak mendengar apa-apa. Caunter ini anak yang mudah sekali terbangun.”
“Saat itu juga, saya segera mengumpulkan para murid, guru dan pegawai. Ternyata Tuan Muda bukanlah satu-satunya yang hilang.
Tuan Heidegger, guru mata pelajaran Bahasa Jerman kami, juga menghilang.” Pak Huxtable mengakhiri ceritanya yang panjang lebar. Sherlock Holmes dan Watson tercenung mendengarnya.
(Diadaptasi dari The Priory, Sir Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 47 tahun XLIII, 25 Pebruari 2016

Ilustrasi : Iman

Wednesday, 13 April 2016

Untuk yang gemar membaca

Di blog ini akan saya muat beberapa cerita yang menarik untuk mengisi waktu. Mulai besok tunggu disini saja...!