Translate

Tuesday, 26 April 2016

THE PRIORY 2

Petualangan di THE PRIORY

Bagian 2

Ringkasan cerita minggu lalu:
Pak Huxtable tiba di kantor Sherlock Holmes dan jatuh pingsan kelelahan. Setelah sadar kembali, Pak Huxtable bercerita bahwa ia adalah kepala sekolah The Priory, sekolah bergengsi yang terletak di Mackleton. Pak Huxtable minta tolong pada Sherlock Holmes untuk membantunya mencari murid barunya yang menghilang tanpa jejak. Tuan Muda Saltire yang berusia 10 tahun adalah putera tunggal Duke of Holdernesse, seorang yang sangat terpandang di Inggris Raya. Selain Tuan Muda Saltire, Pak Heidegger, guru Bahasa Jerman di sekolah itu juga menghilang.
  Pak Huxtable menjelaskan dengan teliti keadaan sekolahnya. “Kamar Pak Heidegger juga berada di lantai 2, di ujung, menghadap ke arah yang sama dengan kamar Tuan Muda Saltire. Kasurnya terlihat seperti bekas ditiduri. Kemeja dan kaus kakinya tergeletak begitu saja di lantai. Ia pasti turun melalui rambatan ivy. Kami mendapatkan jejak kakinya di halaman. Sepedanya yang biasa ia simpan di gudang kecil di sebelah halaman pun turut lenyap.
“Ia telah mengajar di sekolah saya selama 2 tahun. Latar belakangnya bagus. Ia seorang yang pendiam. Sejak hilangnya Tuan Muda Saltire hari Kamis lalu, kami sama sekali tidak menemukan jejak maupun petunjuk. Kami segera mengirimkan pemberitahuan ke Holdernesse Hall. Kami sempat berpikir, mungkin saja Tuan Muda Saltire rindu akan rumahnya dan pulang. Tapi ternyata tidak. Duke of Holdernesse, ayahnya , menjadi sangat gelisah. Saya sendiri menjadi panik karena tanggung jawab saya sangat besar. Itu sebabnya saya sampai jatuh pingsan,” kata Pak Huxtable.
Tuan Holmes, jika Anda ingin mengerahkan seluruh kemampuan Anda, maka inilah saat yang tepat. Anda tidak akan pernah lagi mendapatkan kasus sehebat ini.”
Sherlock Holmes sejak tadi mendengarkan dengan Wseksama cerita kapala sekolah yang malang itu. Dengan alis berkerut, ia berkonsentrasi pada misteri baru itu. Ia lalu mengeluarkan buku catatannya dan menuliskan beberapa kalimat di dalamnya.
“Kenapa Anda tidak datang pada saya lebih cepat…” kata Holmes tegas. “Seharusnya, tanaman ivy dan rumput di tanah yang diinjak itu bisa memberikan petunjuk yang lebih besar kalau saya yang mengamatinya.”
“Jangan salahkan saya, Pak Holmes, Yang Mulia Duke of Holdernesse sangat menghindari gosip. Ia takut dunia akan tahu kejadian yang dialami keluarganya ini.”
Tapi, apakah sudah ada penyelidikan resmi dari polisi?” Tanya Holmes.
“Sudah, Pak Holmes… Sayang, penyelidikannya mengecewakan. Ada laporan tentang seorang anak lelaki dan seorang lelaki dewasa yang naik kereta paling pagi. Pasangan itu berhasil dikejar di Liverpool. Tapi ternyata mereka bukan Tuan Muda Saltire dan guru bahasa Jerman itu. Sekarang, penyelidikan sudah diakhiri.”
“Jadi, tiga hari terbuang sia-sia. Sungguh buruk,” keluh Holmes.
“Saya rasa, Anda benar,” kata Pak Huxtable.
“Saya bersedia menyelidiki kasus ini. Apakah Anda dapat melacak hubungan antara si anak hilang dengan guru bahasa Jerman ini?.”
“Sama sekali tidak. Mereka tidak saling kenal, karena Tuan Muda Saltire tidak mengambil kelas Bahasa Jerman.”
“Sungguh aneh,” gumam Sherlock. “Apakah anak itu punya sepeda?”
“Tidak.”
“Apakah ada sepeda lain yang turut menghilang?”
“Tidak.”
“Jadi, apakah menurut Anda, guru bahasa Jerman itu kabur dengan sepeda sambil menggendong Tuan Muda Saltire di lengannya?” Tanya Holmes lagi.
“Tentu saja tidak. Sepedanya itu mungkin hanya untuk membuat jejak palsu. Sepeda itu lalu disembunyikan di suatu tempat. Mereka lalu pergi dengan berjalan kaki.”
“Bisa jadi begitu. Jadi, menurut Anda, itu jejak yang sengaja dibuat untuk mengelabui, ya? Apakah ada sepeda lain dalam gudang itu?”
“Ada beberapa.”
“Mengapa guru bahasa Jerman itu tidak menyembunyikan dua sepeda saja? Supaya terlihat seperti mereka kabur dengan sepeda-sepeda itu?” gumam Holmes.
“Betul juga… Kalau dia mau membuat jejak palsu, seharusnya, sepeda-sepeda itu juga disembunyikan, ya.”
“Teori jejak palsu itu sepertinya tidak mungkin. Tetapi kejadian ini sendiri bisa menjadi awal penyelidikan yang bagus. Sepeda kan, bukan barang yang mudah dihancurkan atau disembunyikan,” kata Holmes bersemangat. Ia lalu melanjutkan.
“Pertanyaan lain, apakah ada yang menghubungi Anda dan menemui anak itu pada hari sebelum anak itu menghilang?”
“Tidak.” Pak Huxtable menggeleng.
“Apakah anak itu mendapatkan surat?”
“Ya. Sepucuk surat dari ayahnya.”
“Apakah Anda membuka suratnya?” Tanya Holmes lagi.
“Tidak.” Pak Huxtable menggeleng lagi.
“Bagaimana Anda tahu surat itu dari ayahnya?” Holmes terus mencecar.
“Ada cap lambang keluarga tertera pada amplopnya. Surat itu ditujukan pada anaknya dalam tulisan tangan anaknya yang kaku. Selain itu, Yang Mulia Duke of Holdernesse sendiri yang bilang, ia memang menyurati putanya.”

“Apakah ia pernah mendapat surat dari Prancis?” Tanya Holmes lagi.
“Tidak. Tidak pernah.”
“Anda tentu mengerti, mengapa saya bertanya soal surat. Kita tidak tahu, anak itu dibawa pergi dengan paksa atau dia ikut dengan sukarela. Kalau anak itu ikut dengan sukarela, pasti pelru seseorang untuk membujuknya. Tapi, kalau dia tidak bertemu siapa pun, maka bujukan itu pasti datang lewat surat yang diterimanya. Itu sebabnya saya ingintahu, siapa saja yang menyuratinya.”
“Tapi Tuan Muda Saltire lebih sayang pada ibunya, kan?”
“Benar.” Pak Huxtable mengangguk.
“Tuan Muda Saltire sendiri yang mengatakannya?”
“Bukan. Saya beberapa kali ngobrol secara rahasia dengan Pak Wilder, Sekretaris Duke of Holdernesse. Dia yang menjelaskan tentang perasaan Tuan Muda Saltire itu,” jelas Pak Huxtable.
“Baiklah. Omong-omong, apakah surat dari ayahnya itu ada di kamar Tuan Muda Saltire setelah dia menghilang?”
“Tidak ada. Mungkin Tuan Muda Saltire membawanya.”
“Holmes mengangguk mengerti lalu berkata, “Baiklah, kalau begitu, saya akan segera memesan mobil. Kami akan segera berangkat ke Mackleton, Pak Huxtable. Dan tolong jangan ceritakan soal kami pada siapapun. Biarkan saja orang-orang mengira bahwa masih ada penyelidikan di Liverpool. Atau polisi masih melakukan pengejaran di daerah lainnya. Dengan begitu, saya bisa dangan tenang mengdakan penyelidikan di sekolah Anda. Siapa tahu, saya dan Watson masih bisa menemukan petunjuk…”  
Malam itu, Holmes dan Wtson pun tiba di The Priory. Sekolah milik Pak Huxtable itu terletak di pegunungan. Holmes dan Watson tiba di sana di saat hari sudah gelap dan cuaca  begitu dingin. Misteri sedang menanti mereka….
(bersambung)
(Diadaptasi dari The Priory, Sir Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 48 tahun XLIII, 3 Maret 2016
Ilustrasi : Iman

No comments:

Post a Comment