Petualangan di THE PRIORY
Bagian 3
Ringkasan cerita yang lalu:
Pak Huxtable
menjelaskankejadian hilangnya Tuan Muda Saltire di The Priory. Katanya, guru
Bahasa Jerman yang ikut hilang itu, sepertinya turun lewat rambatan ivy.
Sepedanya juga menghilang. Polisi telah menghentikan penyelidikan setelah gagal
mencari anak itu dan guru Bahasa Jerman. Menurut Pak Huxtable, sebelum anak itu
menghilang, ia mendapatkan sepucuk surat dari ayahnya. Holmes dan Watson
akhirnya berangkat ke The Priory malam itu.
Sherlock
Holmes, Watson, dan Pak Huxtable kini sudah berada di ruangan depan The Priory.
Di sana, tenyata telah ada Yang Mulia Duke of Holdernesse dan sekretarisnya,
Pak Wilder.
Yang Mulia Duke of Holdernesse
bertubuh tinggi dan berpakaian sangat rapi.
Wajahnya tirus dengan hidung
panjang yang melengkung aneh. Kulitnya pucat sementara janggutnya berwarna
merah panjang. Ia memakai jas putih dan tampak rantai jam keemasannya menjulur
keluar dari saku.
Di sebelah Duke of
Holdernesse, berdiri Pak Wilder,
sekretaris pribadi Duke of Holdernesse. Pak Wilder yang masih muda itu, bertubuh
kecil dan tampak gugup. Ia memulai percakapan dengan nada suaranya yang tajam,
seperti memarahi Pak Huxtable.
“Saya menelepon Anda tadi pagi,
Pak Huxtable, tapi saya terlambat mencegah Anda pergi ke London. Saya tahu,
Anda akan mengunjungi Pak Sherlock Holmes untuk meminta bantuan menyelidiki
kasus ini. Yang Mulia terkejut saat tahu Anda mengambil tindakan itu tanpa
bertanya dulu pada Yang Mulia…”
“Tapi, Pak Wlider… Polisi telah
gagal menyelidiki. Itu sebabnya saya meminta bantuan Pak Sherlock Ho…”
“Tapi, Pak huxtable… Yang Mulia
tidak mau masalah ini jadi pembicaraan banyak orang…” potong Pak Wilder.
“Maafkan, saya… Baiklah, masalah
ini akan segera saya perbaiki,” jawab Pak Huxtable yang merasa diserang. “Pak
Sherlock Holmes dapat kembali ke London dengan kereta paling pagi besok.”
Akan tetapi, Sherlock Holmes
menjawab dengan suara mantap, “Itu tidak akan terjadi, Pak Huxtable!” Lalu
sambungnya, “Udara di sini begitu menyegarkan dan menyenangkan. Saya menawarkan
diri untuk menyelidiki masalah ini beberapa hari. Saya akan memanfaatkan otak
saya sebaik-baiknya. Apakah saya akan menginap di kediaman Anda, ataupun di
penginapan di desa, itu terserah kepada Anda, Pak Huxtable.”
Pak Huxtable tampak bingung.
Dan tak disangka, suara
menggelegar Yang Mulia Duke of Holdernesse, menyelamatkan Pak Huxtable.
“Saya setuju dengan pendapat Pak
Wilder, Pak Huxtable. Seharusnya Anda bertanya dulu pada saya, sebelum meminta
bantuan Pak Holmes. Tetapi, karena Anda sangat yakin dengan kemampuan Pak
Holmes, rasanya, tidak ada salahnya kalau kita tidak menyia-nyiakan
keahliannya. Dan daripada menginap di penginapan desa, saya sangat senang jika
Pak Holmes mau menginap di rumah saya, Holdernesse Hall.”
Sherlock Holmes menjawab dengan
sopa, “Terima kasih, Yang Mulia Duke of Holdernesse. Mungkin sebaiknya saya
tetap berada di tempat kejadian misteri, di sini. Karena saya akan menyelidiki
kasus ini.”
“Silakan lakukan yang terbaik
menurut Anda, Pak Holmes. Saya dan pak Wilder siap memberikan keterangan apa
pun yang Anda minta,” ujar Duke of Holdernesse.
“Mungkin saya akan mengunjungi
Anda di kediaman Anda, Yang Mulia, sekarang ini, saya ingin tahu, apakah Anda
sudah punya penjelasan berkaitan dengan hilangnya putra Anda?”
“Belum, Pak Holmes.”
“Maafkan jika pertanyaan saya
ini menyakiti Anda. Tetapi, saya tetap harus bertanya. Apakah mungkin, istri
Anda terlibat dengan menghilangnya putra Anda secara misterius ini?”
Wajah sang bangsawan itu tampak
ragu.
“Tidak…” Akhirnya ia menjawab.
“Apakah ada yang meminta uang
tebusan, Yang Mulia?” tanya Holmes lagi.
“Tidak!”
“Satu pertanyaan lagi, Yang
Mulia. Apakah Anda mengirim surat pada putra Anda, bertepatan di hari dia
diculik?”
“Tidak. Saya menulis sehari
sebelum putra saya diculik.’
“Tetapi, putra Anda menerimanya
di hari ia menghilang?” tanya Holmes lagi.
“Benar.”
“Apakah ada sesuatu di dalam
surat Anda itu, yang mungkin membuat putra Anda lari dari sekolahnya?”
“Tidak. Tentu saja tidak.”
“Apakah Anda mengirimkan sendiri
surat tersebut?” Holmes kembali bertanya.
Sebelum bangsawan itu menjawab,
sekretarisnya menjawab dengan menggebu-gebu. “Tentu saja Yang Mulia tidak
mengirimkan sendiri surat-suratnya. Surat tersebut berada di atas meja
kerjanya. Saya yang memasukkan semua surat beliau ke dalam tas pos.”
“Berapa banyak surat yang Anda
tulis hari itu, Yang Mulia?” tanya Holmes kembali pada Duke of Holdernesse.
“20 hingga 30 pucuk surat. Tapi,
apa hubungannya dengan masalah penculikan ini?” tanya Duke of Holdernesse
heran.
“Saya sendiri sudah menyarankan
pada polisi untuk memusatkan penyelidikan ke Prancis Selatan. Tadi saya
mengatakan bahwa saya tidak berpikir istri saya terlibat masalah ini. Tapi,
putra saya itu sering berbuat sesuka hati. Mungkin saja dia terbang ke Prancis
untuk menemui ibunya, dengan ditemani guru Bahasa Jerman itu. Nah, sekarang,
saya akan kembali ke Holdernesse Hall, Pak Holmes.”
Watson melihat sepertinya Holmes
ingin mengajukan pertanyaan lagi. Namun bangsawan itu melangkah pergi, dan
wawancara pun selesai.
Ketika sang bangsawan dan
sekretarisnya sudah pergi, Holmes dengan penuh semangat segera memulai
penyelidikannya.
Kamar sang anak diperiksa dengan
teliti. Namun tidak ada hasil apa pun, kecuali kejelasan kalau anak itu
melarikan diri melalui jendela kamar. Kamar si guru Bahasa Jerman juga tidak
memberi petunjuk apapun. Rambatan ivy jelas telah membantu menopang berat tubuh
si guru Bahasa Jerman. Sherlock Holmes dan Watson juga bisa melihat bekas jejak
tumit si guru yang bertumpu ketika ia mencapai tanah. Itu adalah satu-satunya
petunjuk yang didapatkan dalam penyelidikan awal Holmes dan Watson.
Sherlock Holmes meninggalkan
sekolah Pak Huxtable seorang diri. Ia baru kembali pada pukul 11 malam setelah
sibuk menyelidiki keadaan sekeliling sekolah. Watson sudah masuk lebih dulu ke
kamar yang disediakan Pak Huxtable.
Sherlock membawa pulang sebuah
peta besar yang menggambarkan lingkungan di sekitar The Priory. Peta itu
dibawanya ke kamrnya dan Watson. Peta itu ia bentangkan. Diletakkannya lampu
meja sebagai penahannya di tepi peta itu. Ia lalu mulai mununjuk titik-titik
yang menarik perhatiannya pada peta.
“Kasus ini makin menarik,
Watson,” katanya.
“Jelas ada bebrapa tempat yang
berhubungan di sini. Pada awal penyelidikan ini, kita harus mempelajari peta
dan keadaan sekeliling kita ini. Pasti bisa membantu penyelidikan kita!” ujar
Holmes lagi pada kawannya.
(Diadaptasi dari The Priory, Sir
Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 49 tahun XLIII, 10
Maret 2016
Ilustrasi : Iman
(Bersambung)
No comments:
Post a Comment