Translate

Saturday, 7 May 2016

THE PRIORY 3

Petualangan di THE PRIORY

Bagian 3

Ringkasan cerita yang lalu:
Pak Huxtable menjelaskankejadian hilangnya Tuan Muda Saltire di The Priory. Katanya, guru Bahasa Jerman yang ikut hilang itu, sepertinya turun lewat rambatan ivy. Sepedanya juga menghilang. Polisi telah menghentikan penyelidikan setelah gagal mencari anak itu dan guru Bahasa Jerman. Menurut Pak Huxtable, sebelum anak itu menghilang, ia mendapatkan sepucuk surat dari ayahnya. Holmes dan Watson akhirnya berangkat ke The Priory malam itu.
                Sherlock Holmes, Watson, dan Pak Huxtable kini sudah berada di ruangan depan The Priory. Di sana, tenyata telah ada Yang Mulia Duke of Holdernesse dan sekretarisnya, Pak Wilder.
Yang Mulia Duke of Holdernesse bertubuh tinggi dan berpakaian sangat rapi.
Wajahnya tirus dengan hidung panjang yang melengkung aneh. Kulitnya pucat sementara janggutnya berwarna merah panjang. Ia memakai jas putih dan tampak rantai jam keemasannya menjulur keluar dari saku.
Di sebelah Duke of Holdernesse,  berdiri Pak Wilder, sekretaris pribadi Duke of Holdernesse. Pak Wilder yang masih muda itu, bertubuh kecil dan tampak gugup. Ia memulai percakapan dengan nada suaranya yang tajam, seperti memarahi Pak Huxtable.
“Saya menelepon Anda tadi pagi, Pak Huxtable, tapi saya terlambat mencegah Anda pergi ke London. Saya tahu, Anda akan mengunjungi Pak Sherlock Holmes untuk meminta bantuan menyelidiki kasus ini. Yang Mulia terkejut saat tahu Anda mengambil tindakan itu tanpa bertanya dulu pada Yang Mulia…”
“Tapi, Pak Wlider… Polisi telah gagal menyelidiki. Itu sebabnya saya meminta bantuan Pak Sherlock Ho…”
“Tapi, Pak huxtable… Yang Mulia tidak mau masalah ini jadi pembicaraan banyak orang…” potong Pak Wilder.
“Maafkan, saya… Baiklah, masalah ini akan segera saya perbaiki,” jawab Pak Huxtable yang merasa diserang. “Pak Sherlock Holmes dapat kembali ke London dengan kereta paling pagi besok.”
Akan tetapi, Sherlock Holmes menjawab dengan suara mantap, “Itu tidak akan terjadi, Pak Huxtable!” Lalu sambungnya, “Udara di sini begitu menyegarkan dan menyenangkan. Saya menawarkan diri untuk menyelidiki masalah ini beberapa hari. Saya akan memanfaatkan otak saya sebaik-baiknya. Apakah saya akan menginap di kediaman Anda, ataupun di penginapan di desa, itu terserah kepada Anda, Pak Huxtable.”
Pak Huxtable tampak bingung.
Dan tak disangka, suara menggelegar Yang Mulia Duke of Holdernesse, menyelamatkan Pak Huxtable.
“Saya setuju dengan pendapat Pak Wilder, Pak Huxtable. Seharusnya Anda bertanya dulu pada saya, sebelum meminta bantuan Pak Holmes. Tetapi, karena Anda sangat yakin dengan kemampuan Pak Holmes, rasanya, tidak ada salahnya kalau kita tidak menyia-nyiakan keahliannya. Dan daripada menginap di penginapan desa, saya sangat senang jika Pak Holmes mau menginap di rumah saya, Holdernesse Hall.”
Sherlock Holmes menjawab dengan sopa, “Terima kasih, Yang Mulia Duke of Holdernesse. Mungkin sebaiknya saya tetap berada di tempat kejadian misteri, di sini. Karena saya akan menyelidiki kasus ini.”
“Silakan lakukan yang terbaik menurut Anda, Pak Holmes. Saya dan pak Wilder siap memberikan keterangan apa pun yang Anda minta,” ujar Duke of Holdernesse.
“Mungkin saya akan mengunjungi Anda di kediaman Anda, Yang Mulia, sekarang ini, saya ingin tahu, apakah Anda sudah punya penjelasan berkaitan dengan hilangnya putra Anda?”
“Belum, Pak Holmes.”
“Maafkan jika pertanyaan saya ini menyakiti Anda. Tetapi, saya tetap harus bertanya. Apakah mungkin, istri Anda terlibat dengan menghilangnya putra Anda secara misterius ini?”
Wajah sang bangsawan itu tampak ragu.
“Tidak…” Akhirnya ia menjawab.
“Apakah ada yang meminta uang tebusan, Yang Mulia?” tanya Holmes lagi.
“Tidak!”
“Satu pertanyaan lagi, Yang Mulia. Apakah Anda mengirim surat pada putra Anda, bertepatan di hari dia diculik?”
“Tidak. Saya menulis sehari sebelum putra saya diculik.’
“Tetapi, putra Anda menerimanya di hari ia menghilang?” tanya Holmes lagi.
“Benar.”
“Apakah ada sesuatu di dalam surat Anda itu, yang mungkin membuat putra Anda lari dari sekolahnya?”
“Tidak. Tentu saja tidak.”
“Apakah Anda mengirimkan sendiri surat tersebut?” Holmes kembali bertanya.
Sebelum bangsawan itu menjawab, sekretarisnya menjawab dengan menggebu-gebu. “Tentu saja Yang Mulia tidak mengirimkan sendiri surat-suratnya. Surat tersebut berada di atas meja kerjanya. Saya yang memasukkan semua surat beliau ke dalam tas pos.”
“Berapa banyak surat yang Anda tulis hari itu, Yang Mulia?” tanya Holmes kembali pada Duke of Holdernesse.
“20 hingga 30 pucuk surat. Tapi, apa hubungannya dengan masalah penculikan ini?” tanya Duke of Holdernesse heran.
“Saya sendiri sudah menyarankan pada polisi untuk memusatkan penyelidikan ke Prancis Selatan. Tadi saya mengatakan bahwa saya tidak berpikir istri saya terlibat masalah ini. Tapi, putra saya itu sering berbuat sesuka hati. Mungkin saja dia terbang ke Prancis untuk menemui ibunya, dengan ditemani guru Bahasa Jerman itu. Nah, sekarang, saya akan kembali ke Holdernesse Hall, Pak Holmes.”
Watson melihat sepertinya Holmes ingin mengajukan pertanyaan lagi. Namun bangsawan itu melangkah pergi, dan wawancara pun selesai.
Ketika sang bangsawan dan sekretarisnya sudah pergi, Holmes dengan penuh semangat segera memulai penyelidikannya.
Kamar sang anak diperiksa dengan teliti. Namun tidak ada hasil apa pun, kecuali kejelasan kalau anak itu melarikan diri melalui jendela kamar. Kamar si guru Bahasa Jerman juga tidak memberi petunjuk apapun. Rambatan ivy jelas telah membantu menopang berat tubuh si guru Bahasa Jerman. Sherlock Holmes dan Watson juga bisa melihat bekas jejak tumit si guru yang bertumpu ketika ia mencapai tanah. Itu adalah satu-satunya petunjuk yang didapatkan dalam penyelidikan awal Holmes dan Watson.
Sherlock Holmes meninggalkan sekolah Pak Huxtable seorang diri. Ia baru kembali pada pukul 11 malam setelah sibuk menyelidiki keadaan sekeliling sekolah. Watson sudah masuk lebih dulu ke kamar yang disediakan Pak Huxtable.
Sherlock membawa pulang sebuah peta besar yang menggambarkan lingkungan di sekitar The Priory. Peta itu dibawanya ke kamrnya dan Watson. Peta itu ia bentangkan. Diletakkannya lampu meja sebagai penahannya di tepi peta itu. Ia lalu mulai mununjuk titik-titik yang menarik perhatiannya pada peta.
“Kasus ini makin menarik, Watson,” katanya.
“Jelas ada bebrapa tempat yang berhubungan di sini. Pada awal penyelidikan ini, kita harus mempelajari peta dan keadaan sekeliling kita ini. Pasti bisa membantu penyelidikan kita!” ujar Holmes lagi pada kawannya.
(Diadaptasi dari The Priory, Sir Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 49 tahun XLIII, 10 Maret 2016
Ilustrasi : Iman

(Bersambung)

No comments:

Post a Comment