Petualangan di THE PRIORY
Bagian 2
Ringkasan cerita minggu lalu:
Pak Huxtable
tiba di kantor Sherlock Holmes dan jatuh pingsan kelelahan. Setelah sadar
kembali, Pak Huxtable bercerita bahwa ia adalah kepala sekolah The Priory,
sekolah bergengsi yang terletak di Mackleton. Pak Huxtable minta tolong pada
Sherlock Holmes untuk membantunya mencari murid barunya yang menghilang tanpa
jejak. Tuan Muda Saltire yang berusia 10 tahun adalah putera tunggal Duke of
Holdernesse, seorang yang sangat terpandang di Inggris Raya. Selain Tuan Muda Saltire,
Pak Heidegger, guru Bahasa Jerman di sekolah itu juga menghilang.
Pak Huxtable menjelaskan dengan
teliti keadaan sekolahnya. “Kamar Pak Heidegger juga berada di lantai 2,
di ujung, menghadap ke arah yang sama dengan kamar Tuan Muda Saltire. Kasurnya
terlihat seperti bekas ditiduri. Kemeja dan kaus kakinya tergeletak begitu saja
di lantai. Ia pasti turun melalui rambatan ivy. Kami mendapatkan jejak kakinya
di halaman. Sepedanya yang biasa ia simpan di gudang kecil di sebelah halaman
pun turut lenyap.
“Ia telah
mengajar di sekolah saya selama 2 tahun. Latar belakangnya bagus. Ia seorang
yang pendiam. Sejak hilangnya Tuan Muda Saltire hari Kamis lalu, kami sama
sekali tidak menemukan jejak maupun petunjuk. Kami segera mengirimkan
pemberitahuan ke Holdernesse Hall. Kami sempat berpikir, mungkin saja Tuan Muda
Saltire rindu akan rumahnya dan pulang. Tapi ternyata tidak. Duke of
Holdernesse, ayahnya , menjadi sangat gelisah. Saya sendiri menjadi panik
karena tanggung jawab saya sangat besar. Itu sebabnya saya sampai jatuh
pingsan,” kata Pak Huxtable.
Tuan Holmes,
jika Anda ingin mengerahkan seluruh kemampuan Anda, maka inilah saat yang
tepat. Anda tidak akan pernah lagi mendapatkan kasus sehebat ini.”
Sherlock
Holmes sejak tadi mendengarkan dengan Wseksama cerita kapala sekolah yang malang
itu. Dengan alis berkerut, ia berkonsentrasi pada misteri baru itu. Ia lalu
mengeluarkan buku catatannya dan menuliskan beberapa kalimat di dalamnya.
“Kenapa Anda
tidak datang pada saya lebih cepat…” kata Holmes tegas. “Seharusnya, tanaman
ivy dan rumput di tanah yang diinjak itu bisa memberikan petunjuk yang lebih
besar kalau saya yang mengamatinya.”
“Jangan
salahkan saya, Pak Holmes, Yang Mulia Duke of Holdernesse sangat menghindari gosip.
Ia takut dunia akan tahu kejadian yang dialami keluarganya ini.”
Tapi, apakah
sudah ada penyelidikan resmi dari polisi?” Tanya Holmes.
“Sudah, Pak
Holmes… Sayang, penyelidikannya mengecewakan. Ada laporan tentang seorang anak
lelaki dan seorang lelaki dewasa yang naik kereta paling pagi. Pasangan itu
berhasil dikejar di Liverpool. Tapi ternyata mereka bukan Tuan Muda Saltire dan
guru bahasa Jerman itu. Sekarang, penyelidikan sudah diakhiri.”
“Jadi, tiga
hari terbuang sia-sia. Sungguh buruk,” keluh Holmes.
“Saya rasa,
Anda benar,” kata Pak Huxtable.
“Saya
bersedia menyelidiki kasus ini. Apakah Anda dapat melacak hubungan antara si
anak hilang dengan guru bahasa Jerman ini?.”
“Sama sekali
tidak. Mereka tidak saling kenal, karena Tuan Muda Saltire tidak mengambil
kelas Bahasa Jerman.”
“Sungguh
aneh,” gumam Sherlock. “Apakah anak itu punya sepeda?”
“Tidak.”
“Apakah ada
sepeda lain yang turut menghilang?”
“Tidak.”
“Jadi, apakah
menurut Anda, guru bahasa Jerman itu kabur dengan sepeda sambil menggendong Tuan
Muda Saltire di lengannya?” Tanya Holmes lagi.
“Tentu saja
tidak. Sepedanya itu mungkin hanya untuk membuat jejak palsu. Sepeda itu lalu
disembunyikan di suatu tempat. Mereka lalu pergi dengan berjalan kaki.”
“Bisa jadi
begitu. Jadi, menurut Anda, itu jejak yang sengaja dibuat untuk mengelabui, ya?
Apakah ada sepeda lain dalam gudang itu?”
“Ada
beberapa.”
“Mengapa guru
bahasa Jerman itu tidak menyembunyikan dua sepeda saja? Supaya terlihat seperti
mereka kabur dengan sepeda-sepeda itu?” gumam Holmes.
“Betul juga…
Kalau dia mau membuat jejak palsu, seharusnya, sepeda-sepeda itu juga
disembunyikan, ya.”
“Teori jejak
palsu itu sepertinya tidak mungkin. Tetapi kejadian ini sendiri bisa menjadi
awal penyelidikan yang bagus. Sepeda kan, bukan barang yang mudah dihancurkan
atau disembunyikan,” kata Holmes bersemangat. Ia lalu melanjutkan.
“Pertanyaan
lain, apakah ada yang menghubungi Anda dan menemui anak itu pada hari sebelum
anak itu menghilang?”
“Tidak.” Pak
Huxtable menggeleng.
“Apakah anak
itu mendapatkan surat?”
“Ya. Sepucuk surat
dari ayahnya.”
“Apakah Anda
membuka suratnya?” Tanya Holmes lagi.
“Tidak.” Pak Huxtable
menggeleng lagi.
“Bagaimana Anda
tahu surat itu dari ayahnya?” Holmes terus mencecar.
“Ada cap
lambang keluarga tertera pada amplopnya. Surat itu ditujukan pada anaknya dalam
tulisan tangan anaknya yang kaku. Selain itu, Yang Mulia Duke of Holdernesse
sendiri yang bilang, ia memang menyurati putanya.”
“Apakah ia
pernah mendapat surat dari Prancis?” Tanya Holmes lagi.
“Tidak. Tidak
pernah.”
“Anda tentu
mengerti, mengapa saya bertanya soal surat. Kita tidak tahu, anak itu dibawa
pergi dengan paksa atau dia ikut dengan sukarela. Kalau anak itu ikut dengan
sukarela, pasti pelru seseorang untuk membujuknya. Tapi, kalau dia tidak bertemu
siapa pun, maka bujukan itu pasti datang lewat surat yang diterimanya. Itu sebabnya
saya ingintahu, siapa saja yang menyuratinya.”
“Tapi Tuan
Muda Saltire lebih sayang pada ibunya, kan?”
“Benar.” Pak Huxtable
mengangguk.
“Tuan Muda
Saltire sendiri yang mengatakannya?”
“Bukan. Saya beberapa
kali ngobrol secara rahasia dengan Pak Wilder, Sekretaris Duke of Holdernesse. Dia
yang menjelaskan tentang perasaan Tuan Muda Saltire itu,” jelas Pak Huxtable.
“Baiklah. Omong-omong,
apakah surat dari ayahnya itu ada di kamar Tuan Muda Saltire setelah dia
menghilang?”
“Tidak ada. Mungkin
Tuan Muda Saltire membawanya.”
“Holmes
mengangguk mengerti lalu berkata, “Baiklah, kalau begitu, saya akan segera memesan
mobil. Kami akan segera berangkat ke Mackleton, Pak Huxtable. Dan tolong jangan
ceritakan soal kami pada siapapun. Biarkan saja orang-orang mengira bahwa masih
ada penyelidikan di Liverpool. Atau polisi masih melakukan pengejaran di daerah
lainnya. Dengan begitu, saya bisa dangan tenang mengdakan penyelidikan di sekolah
Anda. Siapa tahu, saya dan Watson masih bisa menemukan petunjuk…”
Malam itu,
Holmes dan Wtson pun tiba di The Priory. Sekolah milik Pak Huxtable itu terletak
di pegunungan. Holmes dan Watson tiba di sana di saat hari sudah gelap dan cuaca
begitu dingin. Misteri sedang menanti
mereka….
(bersambung)
(Diadaptasi dari The Priory, Sir
Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 48 tahun XLIII, 3
Maret 2016
Ilustrasi : Iman

“Ada apa dengannya, Watson?” Holmes
bertanya. “Sepertinya ia amat sangat kelelahan, ditambah kemungkinan kelaparan
dan kehabisan tenaga,” jawab Watson sambil meraba denyut nadi sang tamu.
