Petualangan di THE PRIORY
Bagian 1
Sherlock
Holmes adalah detektif terkenal cerdas dan baik hati. Ia memiliki sahabat baik
bernama dokter John Watson. Kantor mereka terletak di Baker Street. Suatu hari,
mereka kedatangan tamu yang unik. Di depan pintu kantor, tamu itu memberikan
kartu namanya Thorneycroft Huxtable, M.A, Ph.D., dan seterusnya. Gelar
akademiknya panjang sekali.
Pak Huxtable
ini bertubuh besar, kuat dan gagah. Anehnya, setelah ia masuk ke ruangan
kantor, tiba-tiba ia sempoyongan dan terjatuh pingsan ke lantai. Watson dan
Sherlock Holmes terpana beberapa saat. Holmes lalu cepat-cepat mengalasi kepala
Huxtable dengan sebuah bantal. Wajah Pak Huxtable terlihat pucat. Kantong
matanya yang tebal berwarna gelap. Dagunya sepertinya tidak sempat dicukur.
Kerah dan
kemejanya tampak kusut. Ujung-ujung rambutnya mencuat kesana kemari seperti
belum disisir. Ia sepertinya baru saja melakukan perjalanan panjang.
“Ada apa dengannya, Watson?” Holmes
bertanya. “Sepertinya ia amat sangat kelelahan, ditambah kemungkinan kelaparan
dan kehabisan tenaga,” jawab Watson sambil meraba denyut nadi sang tamu.
Holmes
menarik secarik kertas dari kantong di jas Pak Huxtable. “Ini tiket
pulang-pergi dari Mackleton, Inggris Utara,” kata Holmes. “Tadi, pasti dia
berangkat pagi pagi sekali dari Mackleton.”
Kelopak mata
orang itu mulai berkedut perlahan. Matanya lalu terbuka. Sepasang bola matanya
yang berwarna kelabu, memandang kosong pada Watson dan Sherlock. Ia buru-buru
berdiri dengan wajah memerah malu.
“Maafkan kelemahan saya ini, Pak Holmes. Saya
terlalu gugup…”
“Oo tenang
saja, tidak apa-apa,” Watson menenangkan. Pak Huxtable lalu menatap Sherlock
Holmes. “Saya khusus datang kesini, untuk mengundang Anda ikut dengan saya.
Saya khawatir, kalau hanya mengirim surat, Anda tidak akan yakin kalau kasus
saya ini sangat serius. Pak Holmes, tolong ikut dengan saya ke Meckleton dengan
kereta berikut…” mohon Pak Huxtable.
Sherlock
Holmes menggelengkan kepalanya. “Silahkan tanya pada teman saya ini, dr.
Watson. Kami berdua sangat sibuk. Kami harus menyelesaikan beberapa kasus
penipuan dan pembunuhan. Cuma kasus yang maha pentinglah yang bisa membuat saya
keluar dari London saat ini.”
“Tamu itu
mengangkat kedua tangannya ke atas sembari berkata, “Tentu saja ini kasus maha
penting, Pak Holmes. Apakah kalian sama sekali tidak mendengar tentang kasus
penculikan putra tunggal dari Duke of Holdernesse?”
“Apa? Sang
mantan Menteri Kabinet?” seru Holmes.
“Betul
sekali. Kami sudah berusaha keras agar berita ini tidak keluar di surat kabar.
Tapi tetap ada sedikit gossip yang beredar. Saya piker kalian telah
mendengarnya.”
Holmes
mengulurkan lengannya dan meraih keluar jilid ‘H’ dari koleksi buku
ensiklopedia Tokoh terkenal.
“Holdernesse,
Duke ke-6… Bukan main banyaknya gelar bangsawannya. Ada Baron of Beverly, Earl
of Carston. Ia menikah dengan Edith putri dari Sir Charles Appledore pada tahun
1888. Putra tungal sekaligus pewaris satu-satunya bernama: Lord Saltire.
Pemilik dari tanah seluas 250.000 hektar yang mengandung mineral di Lancashire
& Wales. Beralamat di Carlton House Terrace; Holdernesse Hall, Hallamshire.
Menjadi ketua Sekretaris Negara untuk… Wah,wah,wah, dia ini pasti orang paling
penting di negeri kita.”
“yang paling
penting dan mungkin terkaya. Saya tahu bahwa Anda teliti dalam mengerjakan
semua pekerjaan professional Anda, Tuan Holmes. Yang Mulia Duke of Holdrenesse
telah sepakat untuk memberikan cek sebesar 5000 poundsterling lagi bagi
siapapun yang bisa menemukan putranya. Ditambah 1000 Poundsterling lagi bagi
yang bisa memberitahukan padanya,siapa penculik putranya itu.”
“Sungguh
tawaran yang sangat menarik,” kata Holmes. “Watson, saya kira sebainya kita
akan temani Pak Huxtable kembali ke Mackleton.
“Dan
sekarang, Pak Huxtable… Silahkan habiskan susu dan biscuit ini. Lalu, tolong
jelaskan pada saya apa yang sebenarnya terjadi. Apa hubungan Anda dengan
kejadian penculikan ini? Jika meliaht janggut Anda yang mulai tumbuh,
sepertinya kejadian ini terjadi 3 hari lalu, dan membuat anda kacau. Mengapa
anda baru datang untuk meminta bantuan saya?” tanya Holmes.
Pak Huxtable
menghabiskan susu dan beberapa potong biscuit yang disiapkan Watson. Warna mata
dan pipinya kembali cerah. Ia bersiap
memberikan penjelasan.
“Saya adalah
pendiri sekaligus kepala sekolah dari The Priory. The Priory adalah sekolah
persiapan terbaik di seluruh London. Ini bukan sekolah biasa. Siswanya adalah
anak-anak bangsawan dan tokoh-tokoh penting di negeri ini.”
“Saya merasa
sangat bangga ketika tiga minggu lalu, Duke of Holdernesse mengirimkan Pak Wilder
sekretarisnya, ke The priory. Menurut Pak Wilder, Tuan Muda Saltire yang
berusia sepuluh tahun, satu-satunya putra sekaligus pewaris Duke of Holdernesse,
akan bersekolah di The Priory. Saya betul-betul tidak menyangka, kalau akan
terjadi kejadian mengerikan ini.”
“Anak itu
tiba pada tanggal 1 Mei, tepat pada hari permulaan semester. Tuan Muda Saltire
sangat pandai dan cepat menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Tidak
bermaksud bergosip, tapi menurut kabar, ayah ibunya sering bertengkar dan untuk
sementara berpisah. Sang ibu pindah ke Perancis Selatan. Tuan Muda Saltire
menjadi sangat pemurung setelah kepergian ibunya. Itu sebabnya ayahnya, Yang
Mulia Duke of Holdernesse, mengirimkannya ke sekolah saya. Dua minggu bersama
kami, cukup membuat Tuan Muda kembali bahagia. Ia terakhir kali terlihat pada
tanggal 13 Mei lalu. Kamar tidurnya terletak di lantai dua. Jendela kamarnya
terbuka dan ada tanaman ivy yang tumbuh kokoh hingga ke bawah. Tidak ada jejak
kaki yang terlacak pada tanah dibawahnya, tetapi kami yakin bahwa itulah
satu-satunya jalan yang mungkin ia lalui untuk pergi.”
“Kami baru tahu
Tuan Muda Saltire tidak ada pada pukul 07.00 Selasa paginya. Kasurnya
beramtakan bekas ditiduri. Ia pergi berpakaian lengkap dengan seragam jas hitam
dan celana panjang abu-abu tua. Tidak terlihat tanda-tanda bahwa ada orang yang
masuk ke kamarnya. Tidak ada tangisan juga. Sebab, Caunter, salah satu anak
yang tinggal di kamar sebelah, tidak mendengar apa-apa. Caunter ini anak yang
mudah sekali terbangun.”
“Saat itu
juga, saya segera mengumpulkan para murid, guru dan pegawai. Ternyata Tuan Muda
bukanlah satu-satunya yang hilang.
Tuan Heidegger, guru mata pelajaran Bahasa Jerman
kami, juga menghilang.” Pak Huxtable mengakhiri ceritanya yang panjang lebar.
Sherlock Holmes dan Watson tercenung mendengarnya.

(Diadaptasi dari The Priory, Sir
Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 47 tahun XLIII, 25
Pebruari 2016
Ilustrasi : Iman
No comments:
Post a Comment