Translate

Saturday, 16 April 2016

The Priory 1

Petualangan di THE PRIORY

Bagian 1

                Sherlock Holmes adalah detektif terkenal cerdas dan baik hati. Ia memiliki sahabat baik bernama dokter John Watson. Kantor mereka terletak di Baker Street. Suatu hari, mereka kedatangan tamu yang unik. Di depan pintu kantor, tamu itu memberikan kartu namanya Thorneycroft Huxtable, M.A, Ph.D., dan seterusnya. Gelar akademiknya panjang sekali.
Pak Huxtable ini bertubuh besar, kuat dan gagah. Anehnya, setelah ia masuk ke ruangan kantor, tiba-tiba ia sempoyongan dan terjatuh pingsan ke lantai. Watson dan Sherlock Holmes terpana beberapa saat. Holmes lalu cepat-cepat mengalasi kepala Huxtable dengan sebuah bantal. Wajah Pak Huxtable terlihat pucat. Kantong matanya yang tebal berwarna gelap. Dagunya sepertinya tidak sempat dicukur.
Kerah dan kemejanya tampak kusut. Ujung-ujung rambutnya mencuat kesana kemari seperti belum disisir. Ia sepertinya baru saja melakukan perjalanan panjang.
“Ada apa dengannya, Watson?” Holmes bertanya. “Sepertinya ia amat sangat kelelahan, ditambah kemungkinan kelaparan dan kehabisan tenaga,” jawab Watson sambil meraba denyut nadi sang tamu.
Holmes menarik secarik kertas dari kantong di jas Pak Huxtable. “Ini tiket pulang-pergi dari Mackleton, Inggris Utara,” kata Holmes. “Tadi, pasti dia berangkat pagi pagi sekali dari Mackleton.”
Kelopak mata orang itu mulai berkedut perlahan. Matanya lalu terbuka. Sepasang bola matanya yang berwarna kelabu, memandang kosong pada Watson dan Sherlock. Ia buru-buru berdiri dengan wajah memerah malu.
 “Maafkan kelemahan saya ini, Pak Holmes. Saya terlalu gugup…”
“Oo tenang saja, tidak apa-apa,” Watson menenangkan. Pak Huxtable lalu menatap Sherlock Holmes. “Saya khusus datang kesini, untuk mengundang Anda ikut dengan saya. Saya khawatir, kalau hanya mengirim surat, Anda tidak akan yakin kalau kasus saya ini sangat serius. Pak Holmes, tolong ikut dengan saya ke Meckleton dengan kereta berikut…” mohon Pak Huxtable.                                                                                                                     
Sherlock Holmes menggelengkan kepalanya. “Silahkan tanya pada teman saya ini, dr. Watson. Kami berdua sangat sibuk. Kami harus menyelesaikan beberapa kasus penipuan dan pembunuhan. Cuma kasus yang maha pentinglah yang bisa membuat saya keluar dari London saat ini.”
“Tamu itu mengangkat kedua tangannya ke atas sembari berkata, “Tentu saja ini kasus maha penting, Pak Holmes. Apakah kalian sama sekali tidak mendengar tentang kasus penculikan putra tunggal dari Duke of Holdernesse?”
“Apa? Sang mantan Menteri Kabinet?” seru Holmes.
“Betul sekali. Kami sudah berusaha keras agar berita ini tidak keluar di surat kabar. Tapi tetap ada sedikit gossip yang beredar. Saya piker kalian telah mendengarnya.”
Holmes mengulurkan lengannya dan meraih keluar jilid ‘H’ dari koleksi buku ensiklopedia Tokoh terkenal.
“Holdernesse, Duke ke-6… Bukan main banyaknya gelar bangsawannya. Ada Baron of Beverly, Earl of Carston. Ia menikah dengan Edith putri dari Sir Charles Appledore pada tahun 1888. Putra tungal sekaligus pewaris satu-satunya bernama: Lord Saltire. Pemilik dari tanah seluas 250.000 hektar yang mengandung mineral di Lancashire & Wales. Beralamat di Carlton House Terrace; Holdernesse Hall, Hallamshire. Menjadi ketua Sekretaris Negara untuk… Wah,wah,wah, dia ini pasti orang paling penting di negeri kita.”
“yang paling penting dan mungkin terkaya. Saya tahu bahwa Anda teliti dalam mengerjakan semua pekerjaan professional Anda, Tuan Holmes. Yang Mulia Duke of Holdrenesse telah sepakat untuk memberikan cek sebesar 5000 poundsterling lagi bagi siapapun yang bisa menemukan putranya. Ditambah 1000 Poundsterling lagi bagi yang bisa memberitahukan padanya,siapa penculik putranya itu.”
“Sungguh tawaran yang sangat menarik,” kata Holmes. “Watson, saya kira sebainya kita akan temani Pak Huxtable kembali ke Mackleton.
“Dan sekarang, Pak Huxtable… Silahkan habiskan susu dan biscuit ini. Lalu, tolong jelaskan pada saya apa yang sebenarnya terjadi. Apa hubungan Anda dengan kejadian penculikan ini? Jika meliaht janggut Anda yang mulai tumbuh, sepertinya kejadian ini terjadi 3 hari lalu, dan membuat anda kacau. Mengapa anda baru datang untuk meminta bantuan saya?” tanya Holmes.
Pak Huxtable menghabiskan susu dan beberapa potong biscuit yang disiapkan Watson. Warna mata dan pipinya  kembali cerah. Ia bersiap memberikan penjelasan.
“Saya adalah pendiri sekaligus kepala sekolah dari The Priory. The Priory adalah sekolah persiapan terbaik di seluruh London. Ini bukan sekolah biasa. Siswanya adalah anak-anak bangsawan dan tokoh-tokoh penting di negeri ini.”
“Saya merasa sangat bangga ketika tiga minggu lalu, Duke of Holdernesse mengirimkan Pak Wilder sekretarisnya, ke The priory. Menurut Pak Wilder, Tuan Muda Saltire yang berusia sepuluh tahun, satu-satunya putra sekaligus pewaris Duke of Holdernesse, akan bersekolah di The Priory. Saya betul-betul tidak menyangka, kalau akan terjadi kejadian mengerikan ini.”
“Anak itu tiba pada tanggal 1 Mei, tepat pada hari permulaan semester. Tuan Muda Saltire sangat pandai dan cepat menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Tidak bermaksud bergosip, tapi menurut kabar, ayah ibunya sering bertengkar dan untuk sementara berpisah. Sang ibu pindah ke Perancis Selatan. Tuan Muda Saltire menjadi sangat pemurung setelah kepergian ibunya. Itu sebabnya ayahnya, Yang Mulia Duke of Holdernesse, mengirimkannya ke sekolah saya. Dua minggu bersama kami, cukup membuat Tuan Muda kembali bahagia. Ia terakhir kali terlihat pada tanggal 13 Mei lalu. Kamar tidurnya terletak di lantai dua. Jendela kamarnya terbuka dan ada tanaman ivy yang tumbuh kokoh hingga ke bawah. Tidak ada jejak kaki yang terlacak pada tanah dibawahnya, tetapi kami yakin bahwa itulah satu-satunya jalan yang mungkin ia lalui untuk pergi.”
“Kami baru tahu Tuan Muda Saltire tidak ada pada pukul 07.00 Selasa paginya. Kasurnya beramtakan bekas ditiduri. Ia pergi berpakaian lengkap dengan seragam jas hitam dan celana panjang abu-abu tua. Tidak terlihat tanda-tanda bahwa ada orang yang masuk ke kamarnya. Tidak ada tangisan juga. Sebab, Caunter, salah satu anak yang tinggal di kamar sebelah, tidak mendengar apa-apa. Caunter ini anak yang mudah sekali terbangun.”
“Saat itu juga, saya segera mengumpulkan para murid, guru dan pegawai. Ternyata Tuan Muda bukanlah satu-satunya yang hilang.
Tuan Heidegger, guru mata pelajaran Bahasa Jerman kami, juga menghilang.” Pak Huxtable mengakhiri ceritanya yang panjang lebar. Sherlock Holmes dan Watson tercenung mendengarnya.
(Diadaptasi dari The Priory, Sir Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 47 tahun XLIII, 25 Pebruari 2016

Ilustrasi : Iman

No comments:

Post a Comment