Petualangan di THE PRIORY
Bagian 5
Ringkasan cerita yang lalu:
Sherlock
Holmes mulai mencari keterangan dari orang-orang yang ada di sekitar The
Priory. Akhirnya ia mengambil kesimpulan, Tuan Muda Saltire dan guru Bahasa
Jerman itu tak mungkin melewati area Barat, Timur, dan Utara. Kemungkinannya
hanya daerah Selatan. Ia dan Watson lalu menyelidiki area itu dan menemukan
jejak sepeda.
“Jelas,
itu jejak sepeda, tetapi bukan sepeda yang kita cari. Aku hafal 42 bentuk jejak
ban sepeda. Jejak ini adalah jejak ban sepeda merk Dunlop. Ada tambalan di
bagian luar bannya. Merk ban sepeda Pak Heidegger adalah Palmer. Jejaknya
berbentuk garis-garis panjang.” Holmes menjelaskan dengan sangat yakin. “Jadi
sudah pasti, ini bukan jejak ban sepeda Pak Heidegger.”
“Barangkali sepeda si anak?” duga
Watson.
“Mungkin saja. Tapi kita, kan,
sudah gagal membuktikan kalau anak itu membawa sepeda. Jejak ini, dibuat oleh
seseorang yang bersepeda dari arah sekolah.”
“Atau mengarah ke sekolah?”
“Tidak, sobatku Watson.
Perhatikanlah jejak-jejak sepeda ini. Jejak yang lebih dalam ini, pastilah jejak
roda belakang, tempat beban tubuh bertumpu. Jejak yang lebih dangkal adalah
jejak jejak roda depan. Jadi jelasa, sepeda ini menjauhi sekolah. Mungkin ini
aad kaitannya dengan kasus kita, dan mungkin juga tidak. Ayo, kita selidiki!”
Dan itulah yang dilakukan Holmes
dan Watson. Setelah melangkah beberapa ratus meter, jejak itu menghilang.
Bersamaan dengan tibanya mereka di tanah lapang berawa.
Di tempat itu, terlihat lagi jejak
sepeda meski hampir tak terlihat karena tertutup jejak kuku sapi-sapi yang lewat.
Setelah itu, tidak terdapat lagi jejak sepeda. Jalan it uterus menuju ke Ragged
Shaw, hutan yang berbelakangan dengan sekolah The Priory. Dari hutan inilah
mestinya sepeda itu muncul.
Holmes duduk di sebuah baru besar
dan meletakkan dagunya di tangannya. Sementara, Watson hanya mondar-mandir
sambil sibuk berpikir.
“Wah,” gumam Holmes. “Mungkin saja
ada seorang penjahat licik yang mengganti ban sepedanya untuk menyesatkan kita.
Sekarang, sebaiknya kita kemabli ke tanah lapang berawa tadi. Masih ada banyak
hal yang belum kita selidiki di sana!” ajak Holmes.
Di tanah lapang basah tadi, Holmes
dan Watson meneruskan penyelidikan dengan tekun dan teratur. Dan ketekunan
mereka ternyata membawa hasil.
Tepat di seberang rawa, Nampak
jalan setapak yang menurun. Holmes berteriak gembira saat tiba di jalan itu.
Ternyata itu ban sepeda merk Palmer.
“Ini dia, milik si Pak Heidegger!”
seru Holmes. “Dugaanku ternyata cukup benar, Watson,”
“Selamat, sobat.”
“Tapi jalan kita masih panjang.
Mari kita telusuri jalan ini sambil mengikuti jejak yang ada. Kurasa tidak akan
terlalu panjang,” ujar Holmes lagi.
Saat menyusuri jalan setapak itu,
mereka menyadari kalau sebagian besar daerah itu bertanah lembut. Jejak yang
mereka ikuti pada tanah itu sering hilang, namun kemudian muncul lagi di bagian
lain.
“Coba perhatikan jejak sepeda ini,
Watson!” kata Holmes sambil menunjuk jejak di tanah. ”Di sini, si pengendara
sepeda menambah kecepatannya. Lihat! Jejak ban sepeda depan dan belakang, sama
kedalamannya. Itu berarti, si pengendara menjatuhkan berat badannya ke stang
sepeda, seperti jika orang sedang ngebut. Dan lihat! Di sini, ada jejak kaki.
Kemudian, di sana, kelihatan lagi jejak sepedanya.”
“Si pengendara sepeda mungkin
terjatuh ke samping. Itu sebabnya terlihat jejak kakinya,” tambah Watson.
Holmes mengangkat setangkai bunga
padang yang tertekuk. Watson terkejut saat melihat bunga kuning itu telah
bercampur dengan sedikit warna merah darah.
“Ini buruk! Sungguh buruk! Menjauh
sedikit, Watson! Jangan sampai merusak jejak ini. Apa yang terjadi di sini? Ia
terjatuh, terluka, lalu bangun dan meneruskan perjalanannya. Tetapi tidak ada
lagi jejak setelah ini. Dan di sisi sebelah sini, hanya ada jejak hewan ternak.
Pengendara ini tidak mungkin jatuh diseruduk banteng, kan? Jejak kaki orang
lain pun tidak terlihat. Kita harus mencari, Watson. Pengendara itu pasti bisa
kita temukan!” kata Holmes yakin.
Pencarian Holmes dan Watson
tidaklah lama. Jejak ban sepeda mulai membentuk lengkungan aneh di jalan yang
basah. Watson menduga, sepeda si pengendara melaju oleng. Tiba-tiba, Watson
melihat kilau logam di tengah semak bunga gorse.
Watson mengajak Holmes
memeriksanya. Dan mereka menemukan sebuah sepedsa dengan ban merk Palmer di sana.
Satu pedalnya patah tertekuk.
Di sisi lain semak, terlihat ada
sepatu mencuat keluar. Di sanalah tergeletak si pengendara sepeda yang malang.
Seorang lelaki tinggi, berjenggot penuh,
memakai kacamata yang sebelah kacanya sudah hilang.
Watson membalikkan tubuhnya dengan
hati-hati. Ia memeriksa lelaki dengan teliti sebagai seorang dokter.
“Lelaki ini pingsan karena pukulan
yang keras dan kelelahan. Untung fisiknya kuat sehinggga dia bisa bertahan
hidup. Dan karena keberaniannya, ia masih bisa menyetir sepeda sampai ke sini,”
jelas Watson.
“Lelaki itu memakai sepatu tanpa
kaus kaki. Separuh jasnya terbuka, memperlihatkan kaos dalamnya. Tidak ada
keraguan lagi bahwa dia adalah Pak Heidegger, si guru Bahasa Jerman.
Holmes tampak berpikir keras.
Alisnya berkerut.
“Sulit menentukan apa yang harus
kita lakukan sekarang, Watson. Aku sendiri ingin tetap meneruskan penyelidikan
ini. Tetapi di sisi lain, kita wajib melapor penemuan kita pada polisi. Dan
membawa Pak Heidegger ke rumah sakit untuk dirawat dengan baik.”
“Biar aku saja yang melapor,” usul
Watson.
“Tetapi aku butuh bantuanmu di
sini, Watson! Tunggu sebentar, ada seseorang sedang memotong gambut di sana.
Ajaklah kesini, siapa tahu bisa menolong kita,” seru Holmes.
Watson segera mengajak si petani
itu. Untunglah ia mau menolong. Mereka bersama-sama mengangkat hati-hati Pak
Heidegger ke mobil si petani, untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Watson
mengatur posisi kepala Pak Heidegger agar tidak banyak bergerak. Holmes juga
menitipkan surat pendek untuk diserahkan pada Pak Huxtable.
Setelah si petani itu pergi,
Holmes menatap Watson serius. ”Nah, Watson. Pagi ini, kita telah menemukan dua
petunjuk. Yang satu adalah sepeda dengan ban merk Palmer, yang membuat kita
menemukan Pak Heidegger. Yang satu lagi adalah sepeda dengan ban merk Dunlop
yang bertambal.” Holmes menhela napas dan melanjutkan.
lebih
(Diadaptasi dari
The Priory, Sir Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 51
tahun XLIII, 24 Maret 2016
Ilustrasi : Iman
(Bersambung)
No comments:
Post a Comment