Translate

Tuesday, 24 January 2017

THE PRIORY 5

Petualangan di THE PRIORY

Bagian 5

Ringkasan cerita yang lalu:
Sherlock Holmes mulai mencari keterangan dari orang-orang yang ada di sekitar The Priory. Akhirnya ia mengambil kesimpulan, Tuan Muda Saltire dan guru Bahasa Jerman itu tak mungkin melewati area Barat, Timur, dan Utara. Kemungkinannya hanya daerah Selatan. Ia dan Watson lalu menyelidiki area itu dan menemukan jejak sepeda.
                “Jelas, itu jejak sepeda, tetapi bukan sepeda yang kita cari. Aku hafal 42 bentuk jejak ban sepeda. Jejak ini adalah jejak ban sepeda merk Dunlop. Ada tambalan di bagian luar bannya. Merk ban sepeda Pak Heidegger adalah Palmer. Jejaknya berbentuk garis-garis panjang.” Holmes menjelaskan dengan sangat yakin. “Jadi sudah pasti, ini bukan jejak ban sepeda Pak Heidegger.”
“Barangkali sepeda si anak?” duga Watson.
“Mungkin saja. Tapi kita, kan, sudah gagal membuktikan kalau anak itu membawa sepeda. Jejak ini, dibuat oleh seseorang yang bersepeda dari arah sekolah.”
“Atau mengarah ke sekolah?”
“Tidak, sobatku Watson. Perhatikanlah jejak-jejak sepeda ini. Jejak yang lebih dalam ini, pastilah jejak roda belakang, tempat beban tubuh bertumpu. Jejak yang lebih dangkal adalah jejak jejak roda depan. Jadi jelasa, sepeda ini menjauhi sekolah. Mungkin ini aad kaitannya dengan kasus kita, dan mungkin juga tidak. Ayo, kita selidiki!”
Dan itulah yang dilakukan Holmes dan Watson. Setelah melangkah beberapa ratus meter, jejak itu menghilang. Bersamaan dengan tibanya mereka di tanah lapang berawa.
Di tempat itu, terlihat lagi jejak sepeda meski hampir tak terlihat karena tertutup jejak kuku sapi-sapi yang lewat. Setelah itu, tidak terdapat lagi jejak sepeda. Jalan it uterus menuju ke Ragged Shaw, hutan yang berbelakangan dengan sekolah The Priory. Dari hutan inilah mestinya sepeda itu muncul.
Holmes duduk di sebuah baru besar dan meletakkan dagunya di tangannya. Sementara, Watson hanya mondar-mandir sambil sibuk berpikir.
“Wah,” gumam Holmes. “Mungkin saja ada seorang penjahat licik yang mengganti ban sepedanya untuk menyesatkan kita. Sekarang, sebaiknya kita kemabli ke tanah lapang berawa tadi. Masih ada banyak hal yang belum kita selidiki di sana!” ajak Holmes.
Di tanah lapang basah tadi, Holmes dan Watson meneruskan penyelidikan dengan tekun dan teratur. Dan ketekunan mereka ternyata membawa hasil.
Tepat di seberang rawa, Nampak jalan setapak yang menurun. Holmes berteriak gembira saat tiba di jalan itu. Ternyata itu ban sepeda merk Palmer.
“Ini dia, milik si Pak Heidegger!” seru Holmes. “Dugaanku ternyata cukup benar, Watson,”
“Selamat, sobat.”
“Tapi jalan kita masih panjang. Mari kita telusuri jalan ini sambil mengikuti jejak yang ada. Kurasa tidak akan terlalu panjang,” ujar Holmes lagi.
Saat menyusuri jalan setapak itu, mereka menyadari kalau sebagian besar daerah itu bertanah lembut. Jejak yang mereka ikuti pada tanah itu sering hilang, namun kemudian muncul lagi di bagian lain.
“Coba perhatikan jejak sepeda ini, Watson!” kata Holmes sambil menunjuk jejak di tanah. ”Di sini, si pengendara sepeda menambah kecepatannya. Lihat! Jejak ban sepeda depan dan belakang, sama kedalamannya. Itu berarti, si pengendara menjatuhkan berat badannya ke stang sepeda, seperti jika orang sedang ngebut. Dan lihat! Di sini, ada jejak kaki. Kemudian, di sana, kelihatan lagi jejak sepedanya.”
“Si pengendara sepeda mungkin terjatuh ke samping. Itu sebabnya terlihat jejak kakinya,” tambah Watson.
Holmes mengangkat setangkai bunga padang yang tertekuk. Watson terkejut saat melihat bunga kuning itu telah bercampur dengan sedikit warna merah darah.
“Ini buruk! Sungguh buruk! Menjauh sedikit, Watson! Jangan sampai merusak jejak ini. Apa yang terjadi di sini? Ia terjatuh, terluka, lalu bangun dan meneruskan perjalanannya. Tetapi tidak ada lagi jejak setelah ini. Dan di sisi sebelah sini, hanya ada jejak hewan ternak. Pengendara ini tidak mungkin jatuh diseruduk banteng, kan? Jejak kaki orang lain pun tidak terlihat. Kita harus mencari, Watson. Pengendara itu pasti bisa kita temukan!” kata Holmes yakin.
Pencarian Holmes dan Watson tidaklah lama. Jejak ban sepeda mulai membentuk lengkungan aneh di jalan yang basah. Watson menduga, sepeda si pengendara melaju oleng. Tiba-tiba, Watson melihat kilau logam di tengah semak bunga gorse.
Watson mengajak Holmes memeriksanya. Dan mereka menemukan sebuah sepedsa dengan ban merk Palmer di sana. Satu pedalnya patah tertekuk.
Di sisi lain semak, terlihat ada sepatu mencuat keluar. Di sanalah tergeletak si pengendara sepeda yang malang. Seorang lelaki tinggi,  berjenggot penuh, memakai kacamata yang sebelah kacanya sudah hilang.
Watson membalikkan tubuhnya dengan hati-hati. Ia memeriksa lelaki dengan teliti sebagai seorang dokter.
“Lelaki ini pingsan karena pukulan yang keras dan kelelahan. Untung fisiknya kuat sehinggga dia bisa bertahan hidup. Dan karena keberaniannya, ia masih bisa menyetir sepeda sampai ke sini,” jelas Watson.
“Lelaki itu memakai sepatu tanpa kaus kaki. Separuh jasnya terbuka, memperlihatkan kaos dalamnya. Tidak ada keraguan lagi bahwa dia adalah Pak Heidegger, si guru Bahasa Jerman.
Holmes tampak berpikir keras. Alisnya berkerut.
“Sulit menentukan apa yang harus kita lakukan sekarang, Watson. Aku sendiri ingin tetap meneruskan penyelidikan ini. Tetapi di sisi lain, kita wajib melapor penemuan kita pada polisi. Dan membawa Pak Heidegger ke rumah sakit untuk dirawat dengan baik.”
“Biar aku saja yang melapor,” usul Watson.
“Tetapi aku butuh bantuanmu di sini, Watson! Tunggu sebentar, ada seseorang sedang memotong gambut di sana. Ajaklah kesini, siapa tahu bisa menolong kita,” seru Holmes.
Watson segera mengajak si petani itu. Untunglah ia mau menolong. Mereka bersama-sama mengangkat hati-hati Pak Heidegger ke mobil si petani, untuk dibawa ke rumah sakit terdekat. Watson mengatur posisi kepala Pak Heidegger agar tidak banyak bergerak. Holmes juga menitipkan surat pendek untuk diserahkan pada Pak Huxtable.
Setelah si petani itu pergi, Holmes menatap Watson serius. ”Nah, Watson. Pagi ini, kita telah menemukan dua petunjuk. Yang satu adalah sepeda dengan ban merk Palmer, yang membuat kita menemukan Pak Heidegger. Yang satu lagi adalah sepeda dengan ban merk Dunlop yang bertambal.” Holmes menhela napas dan melanjutkan.
lebih

(Diadaptasi dari The Priory, Sir Arthur Conan Doyle, oleh Tiara Inesti/vp)
Sumber: Bobo 51 tahun XLIII, 24 Maret 2016
Ilustrasi : Iman

(Bersambung)

No comments:

Post a Comment